Berita Lampung

Dapur Dif_able Pertama di Lampung, Chandra: Terinspirasi Kafe Sunyi Jakarta

Ini adalah Dapur Dif_able. Berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kota Bandar Lampung.

Tayang:
Penulis: Gustina Asmara | Editor: taryono
Tribun Lampung/Gustina Asmara
DAPUR DIFABLE - Dapur difabel pertama di Lampung berlokasi di Jalan Diponegoro, tepatnya di samping kantor PLN UP3 Tanjungkarang, Kota Bandar Lampung. 

Tentu saja bukan hal mudah untuk mewujudkan Dapur Dif_able yang merupakan satu-satunya di Provinsi Lampung ini. Butuh perjuangan panjang dan tak sebentar mewujudkannya.

Chandra menceritakan ide awal lahirnya Dapur Dif_able ini. Semua berawal saat dirinya melihat Kafe Sunyi dan Kopi Tuli di Jakarta. Kafe ini pun dikelola teman-teman difabel tuli dan bisu.

Menurutnya, kafe tersebut sangat keren dan ia ingin sekali teman-teman difabel mengelola kafe seperti itu di Lampung. Sayangnya, Chandra tidak memiliki modal sama sekali untuk mewujudkan mimpi itu.

Chandra yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila)
lantas bercerita dengan Ketua Forum CSR Lampung Saptarini atau akrab mereka sapa Emak Rini. Forum CSR berisi BUMN-BUMN yang berkantor di Lampung.

Chandra lantas bercerita kepada Emak Rini tentang mimpinya ini. Gayung bersambut, Rini pun bersedia membantu.

Rini melalui Forum CSR lantas mencari sponsor agar bisa melatih remaja tuli bisu untuk memasak dan membuat minuman, memahami manajemen kafe, cara melayani pelanggan, dan lain sebagainya.

"Emak Rini mencarikan pelatih untuk mengajari masak. Pelatihnya itu chef dari hotel. Kita dibimbing sampai benar-benar bisa," ujarnya.

Tidak hanya itu, Rini juga membantu teman-teman difabel mendapatkan tempat untuk membuka kafe tersebut. Untuk tempat tersebut disediakan oleh PLN Lampung secara gratis.

Chandra meneruskan, Dapur Dif_able berdiri pada 5 Maret 2021. Saat itu pandemi Covid-19 masih terjadi. Kafe dioperasikan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Namun karena Covid sedang gawat-gawatnya, banyak warga memilih tidak keluar rumah termasuk makan di luar rumah. Karena itu, saat pandemi, Dapur Dif_able sempat sepi bahkan pernah tidak ada pengunjung.

"Jadi saat pandemi itu, kita sulit dapat pelanggan. Sayuran banyak yang busuk," ceritanya.

Bahkan karena pandemi Covid-19 kala itu, teman-teman difabel sampai libur beberapa bulan. Kafe baru buka lagi setelah pemerintah membolehkan kafe beroperasional secara penuh.

Awal beroperasi, tutur Chandra, teman-teman difabel masih didampingi chef. Namun setahun belakangan sudah mandiri karena memang dituntut untuk bisa mengatur dapur difabel sendiri.

Saat awal-awal operasional, teman-teman difabel juga mengalami banyak kesulitan. Terutama saat berkomunikasi dengan pelanggan.

"Saat mau tanya-tanya, harus pakai catatan atau ketik di HP dulu," tuturnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved