Liputan Khusus
Nasi Kucing Bandar Lampung Jadi Tempat Nongkrong Lepas Penat Anak Milenial dan Gen Z
Tak hanya jadi tempat nongkrong, angkringan di Bandar Lampung juga menawarkan berbagai hiburan untuk menarik minat pengunjung.
Penulis: kiki adipratama | Editor: Indra Simanjuntak
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Fenomena angkringan yang menjadi tempat nongkrong kaum milenilal di Bandar Lampung dalam beberapa tahun terakhir meningkat pesat hingga menyebar di berbagai ruas jalan.
Tak hanya jadi tempat nongkrong, angkringan di Bandar Lampung juga menawarkan berbagai hiburan untuk menarik minat pengunjung.
Diketahui, nasi kucing alias angkringan yang dulunya menyasar konsumen kantong pas-pasan, kini menjelma jadi tempat nongkrong anak muda milenial dan Gen Z di Bandar Lampung.
Kevin, salah satu pengunjung angkringan Kance mengatakan, dirinya sengaja datang untuk melepas penat seharian bekerja.
"Saya ingin menghibur diri dengan pergi ke angkringan Kance. Selain makanannya murah dan enak"
"Biasanya saya habiskan uang Rp 100 ribu setiap kali makan," kata Kevin yang merupakan seorang pengusaha ini.
Ia mengaku, sangat senang ke angkringan Kance karena ada live musiknya.
"Sehingga saya bisa nyaman makan sambil ditemani alunan musik dengan lagu kekinian yang dinyanyikan secara live," ujar pria yang mengendarai Toyota Fortuner ini.
Andre, pengunjung Jamal mengatakan, sengaja datang Angkringan Jamal karena harga makanannya murah.
"Cukup di kantong kalau jajan di Jamal ini, harga tidak mahal dan sangat terjangkau," kata Andre.
Ia mengatakan, setiap kali transaksi mencapai Rp 110 ribu dengan makanan seperti mie goreng dan es cokelat.
Lalu Agus warga Rajabasa yang merupakan langganan dari Waroeng Sunshine mengaku senang kalau makan di tempat lesehan.
"Nongkrong di Waroeng Sunshine ini tidak mahal, hanya menghabiskan Rp 150 ribu bersama teman-teman sudah senang," kata Agus, pengusaha toko bangunan ini.
Dia mengatakan, Waroeng Sunshine ini menariknya selalu ada live akustik.
"Sehingga saya nyaman menikmatinya. Terutama weekend, saya pasti datang ke Waroeng Sunshine ini," pungkasnya.
Di Atas Rp 100 Ribu
Pengunjung yang bertandang ke Kance Angkringan, di setiap mejanya mampu menghabiskan sekitar Rp 100 ribu ke atas.
Untuk konsumennya sendiri rata-rata dari mahasiswa anak indekos, orangtua, hingga para PNS.
"Kalau awalnya kami merintis sangat sepi dan hanya ada beberapa orang saja datang ke tempat kami. Makanya kami terus melakukan upgrade. Jika tadinya hanya lesehan, sekarang kami menggunakan kursi," kata Ferdi.
"Dengan kami membuka tempat usaha ini, kami ingin memberikan kesempatan bagi yang tidak memiliki pekerjaan agar terbantu perekonomiannya. Saat ini kami sudah ada tujuh karyawan," kata Ferdi.
Ferdi mengatakan, angkringan Kance setiap bulannya mampu mencapai omzet sekitar Rp 55 juta.
"Sampai saat ini kami baru satu cabang dan rencana ada niatan untuk membuka cabang lagi," tambah warga Kecamatan Tanjungkarang Pusat ini.
Sementara di Angkringan Jamal, setiap meja yang ada, rata-rata transaksinya lebih dari Rp 100 ribu ke atas.
"Alhamdullah baru buka sebulan sudah banyak pengunjung yang datang menggunakan mobil," imbuhnya.
"Sampai saat ini, kami tetap eksis dan stabil dengan jumlah pengunjung permalam bisa sampai 300 orang dengan keuntungan setiap bulan mencapai Rp 15 juta," kata Deni.
Pihaknya saat ini baru memiliki satu cabang dan ke depannya, berencana mau buka cabang.
"Kedai kami bukan dari pukul 18-00.00 WIB setiap malamnya. Kalau kelebihannya di Jamal yakni makanan kami murah dengan live musiknya keren-keren penyanyinya serta tempatnya nyaman," imbuhnya.
Sementara di Waroeng Sunshine untuk pengunjung ramainya weekend dengan jumlah 50-100 orang setiap malamnya dan belanja per meja terdiri dari empat orang bisa mencapai Rp 50-100 ribu.
Waroeng Sunshine sendiri memiliki harga makanan dan minuman yang cukup terjangkau.
Gama mengatakan, pengunjungharus menjajal menu yang paling recomended yakni nasi bakar dan sate obonk untuk makanannya dan untuk minuman bandrek. "
Alhamdulillah kami omzetnya sebulan Rp 40-50 juta sebulannya dengan tiga orang karyawan yang menemaninya," tambah Gama.
Sedangkan Iqbal dari Angkringan Santuy menfgatakan, biasanya satu orang di tempatnya menghabiskan Rp 50 ribu.
"Banyak sih yang bawa mobil datang ke sini, ngopi, maka mi dan lain-lain. Ya satu orang ngabisin Rp 50 ribu lah kadang ada juga yang lebih," kata dia.
Iqbal menuturkan, semalam saja omzet yang dia bawa pulang bisa mencapai Rp 800 ribu.
"Ya Alhamdulillah sih kadang ya Rp 800 ribu ada kalo semalem," tambahnya.
Live Musik
Owner Angkringan Kance, Ferdi Darma Indrawan mengatakan, ia bersama sang kakak sejak 13 bulan lalu sudah menggunakan konsep live music untuk menarik pengunjung datang ke angkringan miliknya.
"Sesuai nama kami, Kance yang berarti teman atau sahabat. Artinya siapapun atau semua orang bisa masuk ke angkringan kami yang berada di seberang Makorem 043 Gatam," kata Ferdi saat diwawancara Sabtu (10/6), di sela-sela melayani konsumennya.
Ferdi mengatakan, live musik mulai tampil pukul 20.00-23.00 WIB setiap harinya. Harapannya, kata dia, para pelanggan tetap betah menikmati sajian yang dihadirkan.
Ia mengatakan, selain mendengar musik, pembeli bisa menikmati makanan di angkringan Kance dengan harga terjangkau.
"Kami menjual sate-satean dari jeroan ayam hanya Rp 3.000 per tusuk hingga minuman ringan Rp 10 ribu. Lalu menu lainnya seperti roti bakar dengan harga yang terjangkau," kata Ferdi.
Hal senada juga dikemukakan Deni Pramana, owner Jamal.
Ia mengatakan, sejak membuka usahanya pada 12 November 2021, ia menyuguhkan konsep live akustik.
Menurutnya, apa yang disajikannya meniru konsep dari Pendopo Lawas di Yogyakarta.
"Kami jual burger, dimsum, mi goreng, susu cokelat yang harganya berkisar Rp 15-18 ribu dan itu sangat terjangkau," kata Deni.
Begitu juga di Waroeng Sunshine juga menjajakan live akustik music untuk menarik hati para konsumen.
Adapun penyanyinya adalah lokal Bandar Lampung. Sedangkan untuk tempat duduk pengunjung, kami sediakan bean bag warna-warni.
"Sunshine artinya bersinar dan buka di Jalan Teuku Umar atau di samping ruko Dunia Jaya atau seberang Masjid Babussalam," kata Gama, Owner Waroeng Sunshine.
Ia mengatakan, Waroeng Sunshine buka dari pukul 19.00-01.00 WIB yang berdirinya sejak November 2022 lalu.
"Kalau dulu saat awal buka kami tidak terlalu ramai, tapi sekarang alhamdullilah saat ini sudah memilik pelanggan tetap," kata Gama, warga Kelurahan Gotong Royong, Kecamatan Tanjungkarang Pusat ini.
(Tribunlampung.co.id)
695.962 Usaha Sudah Pakai QRIS, di Lampung Tumbuh 27,80 Persen per Tahun |
![]() |
---|
Kendaraan ODOL Picu Jalan yang Sudah Diperbaiki di Lampung Cepat Rusak |
![]() |
---|
Gubernur Lampung Target Jalan Mantap 98 Persen Lima Tahun ke Depan |
![]() |
---|
Pemprov Lampung Targetkan 52 Ruas Jalan Diperbaiki Tahun Ini |
![]() |
---|
Dulu Kubangan Kini Beton, Progres Perbaikan Jalan Provinsi di Lampung |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.