Berita Lampung

Sejarah Berdirinya RSUD Abdul Moloek, dari RS Pekebunan Hindia Belanda Kini Berstatus RS Tipe A

Mungkin tak banyak yang tahu kalau rumah sakit milik Pemprov Lampung itu dulunya adalah rumah sakit perkebunan milik Pemerintah Hindia Belanda.

Tayang:
Dokumentasi Tribun Lampung
Patung Abdul Moloek berdiri kokoh didepan gedung utama RSUDAM, Bandar Lampung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG- Masyarakat Lampung tentunya bangga dengan keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) yang kini telah berubah status menjadi rumah sakit rujukan tipe A.

Seiring dengan perubahan status itu, RSUDAM terus berbenah. Gedung dan bangunan rumah sakit plat merah itu terus di perluas dan megah.

Dibalik status dan megahnya bangunan RSUDAM itu kini, mungkin tak banyak yang tahu kalau rumah sakit milik Pemprov Lampung itu dulunya adalah rumah sakit perkebunan milik Pemerintah Hindia Belanda.

RSUDAM yang berdiri pada tahun 1914 kala itu merupakan rumah sakit yang diperuntukkan merawat buruh perkebunan yang dipekerjakan Pemerintah Hindia Belanda. 

“Kapasitas ruang perawatan kala itu hanya 100 tempat tidur. Jadi rumah sakit ini dulu digunakan untuk merawat pekerja perkebunan Pemerintah Hindia Belanda,” terang Kasubag Humas RSUDAM Sapta Putra kepada Tribunlampung.co.id, Kamis (14/3/2024).

Dilansir dari website resmi RSUDAM, ketika Jepang menduduki Indonesia, RSUDAM diambil alih dari tangan Belanda.

Rumah sakit ini dijadikan sebagai tempat merawat tentara Jepang.

Statusnya pun berubah manakala Jepang angkat kaki dari tanah air.

Dan kemudian, status RSUDAM menjadi rumah sakit umum yang dikelola Pemerintah RI dan diberi nama Rumah Sakit Tanjungkarang.

Lalu di tahun 1950 sampai 1964, Rumah Sakit Tanjungkarang dikelola Pemerintah Daerah Sumatera Selatan.

Baru kemudian, di tahun 1964  rumah sakit ini dikelola oleh Pemerintah Kota Madya (Kodya) Tanjungkarang, Lampung.

Terhitung sejak tahun 1965 sampai sekarang, RSUDAM dikelola Pemerintah Provinsi Lampung.

Kemudian pada tahun 1984, rumah sakit Tanjungkarang ini berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM).

Perubahan nama ini kemudian di Perda-kan oleh Pemprov Lampung dengan Perda No. 8 tahun 1985 tanggal 27 Februari 1995.

Nama Abdul Moeloek diabadikan sebagai nama rumah sakit dengan berbagai pertimbangan.

Salah satunya karena dia adalah direktur dengan masa kepemimpinan paling panjang yaitu tahun 1942 sampai tahun 1957.

Dikutip dari website resmi RSUDAM, direktur pertama RSUDAM ialah Dam Stoh pada tahun 1929.

Sosok Dr Abdul Moloek

Dilansir dari website resmi RSUDAM, Abdul Moeloek lahir pada 10 Maret 1905 di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Saat usianya 12 tahun, Abdul Moeloek merantau ke Batavia yang kini bernama Jakarta. Ia pernah kuliah Fakultas Kedokteran Hewan Bogor.

Namun Abdul Moeloek pindah kuliah ke sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia  bernama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Ia memperoleh gelar dokter tahun 1932.

Tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1935, Abdul Moeloek menjadi kepala RS Bangkiang, Kampar, Riau. Lalu pada tahun 1937 Abdul Moeloek bertugas di RS Kariadi Semarang.

Pada tahun 1940 – 1945, Abdul Moeloek ditugaskan menjadi dokter di Krui dan Liwa, Provinsi Lampung dan Muara Dua Provinsi Sumatera Selatan.

Di era revolusi itu, Abdul Moeloek sempat diangkat menjadi “Bupati Perang” di Liwa dengan pangkat walikota tituler di bawah “Gubernur Perang” dr. Abdul Gani yang saat itu Gubernur Sumatera Selatan.

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya di tahun 1945, Abdul Moeloek bertugas di RS Tanjungkarang.

Dia menjadi satu-satunya dokter yang diberi amanat menjabat Kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang.

Sebagai kepala rumah sakit di era pergolakan, Abdul Moeloek tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Buktinya ia tidak hanya mengobati korban perang dari Indonesia, prajurit Belanda pun tetap mendapat perlakuan yang sama.

Abdul Moeloek merupakan direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang. Dia lah direktur paling lama di RS Tanjungkarang selama 12 tahun (1945-1957).

Ia menikah dengan Poeti Alam Naisjah, seorang perempuan kelahiran 1914 asal Solok, Sumatra Barat. Pernikahan mereka dikaruniai lima orang anak.

Dua dari lima anak Abdul Moloek itu diantaranya Faried Anfasa Moeloek yang pernah menjadi menteri kesehatan Indonesia.

Kemudian Nukman Moeloek, seorang pakar andrologi dan guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)

Sebelum wafat pada tahun 1973, Abdul Moeloek berwasiat kepada istri dan anak-anaknya agar dimakamkan di kampung TPU.

Dia beralasan agar menyaringya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan saja dan oleh siapa saja.

Jasadnya di makamkan di Taman Permakaman Umum (TPU) Lungsir, Telukbetung Utara.

Lalu pada tanggal 4 September 2015, atas persetujuan keluarga dan disaksikan langsung oleh Menteri Kesehatan saat itu, jasad Abdul Moeloek dan istri dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kedaton, Bandar Lampung.

Untuk mengenang jasa Abdul Moloek, Pemprov Lampung lalu membangun patung Abdul Moloek beserta prasasti di depan bangunan utama RSUDAM.

Patung Abdul Moloek diresemikan oleh Menteri Kesehatan, Nila Djuwira F. Moeloek, pada 25 Februari 2017,

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/end)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved