Berita Lampung
Kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan per Maret 2024 Capai 25 Pasien
Jumlah kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan pada 2024 menurun dari tahun sebelumnya pada 2023 kemarin.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: Indra Simanjuntak
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Jumlah kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan pada 2024 menurun dari tahun sebelumnya pada 2023 kemarin.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Jamaludin mengatakan, jumlah kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan pada Januari sampai Maret 2024 dengan mencapai 25 orang.
Ia menyebut jumlah kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan pada periode yang sama mengalami penurunan.
Jumlah kasus HIV/AIDS di Lampung Selatan pada 2023 sebanyak 113 orang.
Ia mengatakan penyebab atau cara penularan HIV itu ada dua jenis dari darah dan dari seks.
"Hubungan seks, Infeksi HIV dapat terjadi melalui hubungan seks baik melalui vagina maupun dubur (seks anal). Meski sangat jarang, HIV juga dapat menular melalui seks oral. Namun, penularan lewat seks oral hanya terjadi bila terdapat luka terbuka di mulut penderita, misalnya akibat gusi mudah berdarah atau sariawan," ujar Jamal, Minggu (19/5/2024).
"Penggunaan jarum suntik berbagi penggunaan jarum suntik dengan penderita HIV adalah salah satu cara yang dapat membuat seseorang tertular HIV. Penularan bisa terjadi jika berbagi pakai jarum suntik ketika menggunakan NAPZA atau saat membuat tato," sambungnya.
Ia mengatakan penyebab atau penularan HIV juga bisa dari transfusi darah penularan HIV dapat terjadi saat seseorang menerima donor darah dari penderita HIV.
Namun, kemungkinan terjadinya penularan ini cukup rendah. Hal ini karena sekarang pendonor darah harus melewati skrining HIV dan infeksi lainnya terlebih dahulu.
Lebih lanjut Ia menjelaskan gejala HIV Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV.
Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu.
Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS.
Menurutnya, pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh.
Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, penurunan berat badan secara drastis (cachexia) atau toksoplasmosis otak.
Ia menjelaskan meningkatnya jumlah kasus HIV di Lampung Selatan karen seks bebas.
"Dari data yang kami terima 80 persen kasus HIV di Lampung Selatan karena seks bebas. Di antaranya karena hubungan intim sesama jenis. Hubungan sesama jenis ini berbahaya karena mereka memasukan melalui lobang anus, sehingga lawan pasangannya bisa terkena HIV," ujarnya.
"Selain itu, suami yang suka jajan sembarangan juga menjadi faktor penyebab lainnya. Bergonta ganti pasangan," sambungnya.
Ia menyebut tidak ada hubungannya banyaknya tempat hiburan malam di Lampung Selatan dengan meningkatnya jumlah HIV.
Dia malah lebih khawatir dengan tempat-tempat hiburan khusus, yang tidak banyak orang mengetahuinya.
Karena dengan begitu mereka sulit untuk dikontrol.
Namun, jika tempat tersebut banyak diketahui orang, pihaknya lebih dapat mengontrol dan memberikan saran pengobatan.
Jamal mengatakan tidak ditemukan kasus HIV/AIDS baru.
Lalu tidak ada kematian penderita dikarnakan HIV.
Tidak ada stigma dan diskriminasi.
Jamal menjelaskan untuk mewujudkan tri zero Dinas Kesehatan melakukan upaya promotif secara komprehensif.
Masih kata Dia, pihaknya melakukan pencegahan terjadinya penularan HIV pada wanita reproduksi.
"Menghindari prilaku seksual berisiko seperti berganti pasangan seksual," katanya.
Kemudian, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita dengan HIV.
"dengan cara memberikan konseling pada wanita HIV untuk ikut KB dengan menggunakan metode kontrasepsi dan cara yang tepat," ujarnya
Selanjutnya, mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya.
Dengan memberikan dukungan psikologi, sosial dan perawatan kesehatan kepada ibu hamil yang positif beserta bayi dan keluarganya.
"Ibu dengan HIV membutuhkan dukungan psikologi sosial dan perawatan sepanjang waktu," katanya.
Hal ini, terutama karena ibu dengan HIV akan menghadapi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap penderita HIV.
Serta upaya preventif, melakukan skrining terhadap ibu hamil dan masyarakat yang berisiko, laki-laki seks dengan laki-laki, wanita pekerja seks, pengguna Napza suntik dan penderita TBC.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID)
| Komisi VII DPR RI Tinjau Perkembangan Industri, Pariwisata, dan UMKM Lampung |
|
|---|
| Pajak Mobil Listrik, Pemprov Lampung Hadapi Dilema Insentif Pusat dan Potensi PAD |
|
|---|
| DPR RI: TVRI Lampung Dinilai Strategis Jadi Pusat Penyiaran di Sumatera |
|
|---|
| Dari Coba-coba Jadi Juara, Perjuangan Radhika Menaklukkan Taekwondo |
|
|---|
| Atlet Lampung Kehilangan Tempat Latihan Memadai sejak GOR Saburai Tiada |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Kabid-Diskes-Lampung-Selatan-Jamaludin-54.jpg)