Jamaah Islamiyah Bubar
Senjata Organik M-16 Milik Prajurit Jamaah Islamiyah Dibuang di Aliran Bengawan Solo
Tak hanya mengamankan buronan, eks prajurit Jamaah Islamiyah yang menyerahkan diri, Densus 88 juga mengamankan sejumlah senjata dan bahan peledak.
Tribunlampung.co.id, Solo – Tak hanya mengamankan sejumlah buronan, eks prajurit Jamaah Islamiyah yang menyerahkan diri, Densus 88 Antiteror Polri juga mengamankan sejumlah senjata dan bahan peledak.
Diketahui, kelompok Al Jamaah Al Islamiyah atau Jamaah Islamiyah atau JI, telah mendeklarasikan diri telah bubar atau membubarkan diri. Deklarasi tersebut merupakan ujung dari pertemuan kajian di Solo 29 Juni 2024, dan hari berikutnya di Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Jamaah Islamiyah di Bogor.
Tokoh senior kelompok Jamaah Islamiyah, Ustaz Abu Fatih alias Abdullah Anshori alias Ibnu Muhammad Thoyib, juga telah menyatakan islah dan meminta maaf kepada Negara Indonesia sekaligus menjadi penegasan atas apa yang sudah diputuskan dan dideklarasikan bersama oleh tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah pada 30 Juni 2024 di Hotel Lor In Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Atas deklarasi tersebut, sejumlah DPO alias buronan Densus 88 Antiteror Polri ikut menyerahkan diri. Di antaranya ada Sabarno, yang telah menjadi buronan Densus 88 selama 10 tahun.
Lewat Sabarno dan kawan-kawan, tim Densus 88 Antiteror juga menyita bahan peledak dan senjata organik M-16 warisan konflik Ambon, yang dibawa balik anggota JI ke sekitar Solo.
Senjata itu ditemukan di aliran Bengawan Solo beberapa minggu lalu, setelah dibuang anggota JI yang menyimpannya.
Sabarno Sempat Syok
Seorang di antara prajurit kelompok Al Jamaah Al Islamiyah atau Jamaah Islamiyah atau JI, Sabarno, selama 10 tahun menjadi buronan alias DPO Densus 88 Antiteror Polri.
Kini, Sabarno secara sukarela menyerahkan diri ke Densus 88 Antiteror Polri setelah mendengar kabar jika organisasi yang diikutinya, Jamaah Islamiyah membubarkan diri.
Di wawancara terpisah, Sabarno alias Amali, eks prajurit Jamaah Islamiyah, mengaku sempat syok saat pertama mendengar organisasi yang diikutiya bubar.
Pak Sabar, begitu ia senang disapa, sekira 10 tahun terakhir berstatus buron atau masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Densus 88 Antiteror Polri.
Dia tidak pernah tertangkap selama masa itu, dan bergerak terus, bertahan hidup bersama keluarganya, dengan bekerja apa saja, termasuk berdagang ban bekas dan bakso.
Pertama mendengar JI bubar, Sabarno tengah berada di Madiun.
Baca juga: Berita Terbaru Hari Ini
Sabarno termasuk sosok penting dan punya rekam jejak panjang di gerakan Jamaah Islamiyah.
Kisah Kader Jamaah Islamiyah 10 Tahun Jadi Buron, Sabarno: Saya Tahu Dilacak Densus 88 |
![]() |
---|
Jejak Akhir Petualangan Noordin M Top, Petinggi Jamaah Islamiyah Tewas di Kota Solo |
![]() |
---|
Abu Mahmudah Berat Bubarkan Jamaah Islamiyah, 'Kami Tak Boleh Terus di Situasi Baper' |
![]() |
---|
Eks Ketua Mantiqi II Jamaah Islamiyah Usulkan Sosialisasi Bubarnya JI Dipercepat |
![]() |
---|
Sabarno, Eks Prajurit Jamaah Islamiyah Pernah Ikut Kursus Perang di Filipina |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.