Jamaah Islamiyah Bubar
Sabarno, Eks Prajurit Jamaah Islamiyah Pernah Ikut Kursus Perang di Filipina
Terkuak rekam jejak Sabarno, eks prajurit Jamaah Islamiyah, pernah ikuti kursus singkat perang di sarang kelompok Moro atau MILF di Pulau Mindanao.
Tribunlampung.co.id, Solo – Selama 10 tahun menjadi buronan alias DPO Densus 88 Antiteror Polri, Sabarno, eks prajurit Jamaah Islamiyah kini menyerahkan diri dan mengajak serta para buronan lainnya.
Terkuak rekam jejak Sabarno, yang menjadi sosok penting bagi organisasi Jamaah Islamiyah, sehingga ia harus menghindar dari kejaran Densus 88.
Diketahui, kelompok Al Jamaah Al Islamiyah atau Jamaah Islamiyah atau JI, telah mendeklarasikan diri telah bubar atau membubarkan diri. Deklarasi tersebut merupakan ujung dari pertemuan kajian di Solo 29 Juni 2024, dan hari berikutnya di Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Jamaah Islamiyah di Bogor.
Tokoh senior kelompok Jamaah Islamiyah, Ustaz Abu Fatih alias Abdullah Anshori alias Ibnu Muhammad Thoyib, juga telah menyatakan islah dan meminta maaf kepada Negara Indonesia sekaligus menjadi penegasan atas apa yang sudah diputuskan dan dideklarasikan bersama oleh tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah pada 30 Juni 2024 di Hotel Lor In Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Atas deklarasi tersebut, sejumlah DPO alias buronan Densus 88 Antiteror Polri ikut menyerahkan diri. Di antaranya ada Sabarno, yang telah menjadi buronan Densus 88 selama 10 tahun.
Di wawancara terpisah, Sabarno alias Amali, eks prajurit Jamaah Islamiyah, mengaku sempat syok saat pertama mendengar organisasi yang diikutiya bubar.
Pak Sabar, begitu ia senang disapa, sekira 10 tahun terakhir berstatus buron atau masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Densus 88 Antiteror Polri.
Dia tidak pernah tertangkap selama masa itu, dan bergerak terus, bertahan hidup bersama keluarganya, dengan bekerja apa saja, termasuk berdagang ban bekas dan bakso.
Pertama mendengar JI bubar, Sabarno tengah berada di Madiun.
Sabarno termasuk sosok penting dan punya rekam jejak panjang di gerakan Jamaah Islamiyah.
Ia pernah mengikuti semacam kursus singkat perang di sarang kelompok Moro atau MILF di Pulau Mindanao, Filipina. Lalu terjun di konflik Ambon, dan masuk ke medan perang Suriah.
“Saya ya sempat syok saat pertama mendengarnya. Lalu saya berusaha tabayun, dan mendapatkan penjelasan lengkap. Pada akhirnya saya bisa menerima, dan menyerahkan diri pada penegak hukum,” kata Sabarno.
Kata ‘menyerahkan diri’ ini masih dalam tanda kutip, karena terjadi satu atau dua bulan sebelum Deklarasi Sentul 30 Juni 2024.
Baca juga: Berita Terbaru Hari Ini
Sabarno memilih kooperatif dan kemudian dipertemukan dengan tim Densus 88 yang merespon secara bijak pula penyerahan diri itu.
Kisah Kader Jamaah Islamiyah 10 Tahun Jadi Buron, Sabarno: Saya Tahu Dilacak Densus 88 |
![]() |
---|
Jejak Akhir Petualangan Noordin M Top, Petinggi Jamaah Islamiyah Tewas di Kota Solo |
![]() |
---|
Abu Mahmudah Berat Bubarkan Jamaah Islamiyah, 'Kami Tak Boleh Terus di Situasi Baper' |
![]() |
---|
Eks Ketua Mantiqi II Jamaah Islamiyah Usulkan Sosialisasi Bubarnya JI Dipercepat |
![]() |
---|
Senjata Organik M-16 Milik Prajurit Jamaah Islamiyah Dibuang di Aliran Bengawan Solo |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.