Jamaah Islamiyah Bubar

Kisah Kader Jamaah Islamiyah 10 Tahun Jadi Buron, Sabarno: Saya Tahu Dilacak Densus 88

Sosok Sabarno alias Pak Sabar alias Amali, menjadi orang yang paling dicari Densus 88. Kader Jamaah Islamiyah bahkan telah 10 tahun masuk DPO.

|
Tribunnews/Sigit Ariyanto
Sabarno (kiri) bersama Abu Fatih atau Abdullah Anshori (kanan), mantan pemimpin Mantiqi II Jamaah Islamiyah saat diwawancarai Tribun secara eksklusif di satu tempat di dekat Kota Solo, Rabu (17/7/2024). Sosok Sabarno alias Pak Sabar alias Amali, menjadi orang yang paling dicari Densus 88. Kader Jamaah Islamiyah bahkan telah 10 tahun masuk DPO. 

Tribunlampung.co.id, Solo - Sosok Sabarno alias Pak Sabar alias Amali, menjadi orang yang paling dicari Densus 88 Antiteror Polri. Kader Jamaah Islamiyah alias JI bahkan telah 10 tahun masuk daftar buron Densus 88.

Diketahui, kelompok Al Jamaah Al Islamiyah atau Jamaah Islamiyah atau JI, telah mendeklarasikan diri telah bubar atau membubarkan diri. Deklarasi tersebut merupakan ujung dari pertemuan kajian di Solo 29 Juni 2024, dan hari berikutnya di Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Jamaah Islamiyah di Bogor.

Tokoh senior kelompok Jamaah Islamiyah, Ustaz Abu Fatih alias Abdullah Anshori alias Ibnu Muhammad Thoyib, juga telah menyatakan islah dan meminta maaf kepada Negara Indonesia sekaligus menjadi penegasan atas apa yang sudah diputuskan dan dideklarasikan bersama oleh tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah pada 30 Juni 2024 di Hotel Lor In Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Tribun berkesempatan untuk mewawancarai Sabarno secara khusus di satu tempat di Kota Solo.

Sorot matanya tetap tampak tajam walau suasana menjelang wawancara rileks. Senyumnya tipis, nada kata-katanya pelan tapi terasa lugas.

Sabarno alias Pak Sabar alias Amali adalah kader Jamaah Islamiyah selama bertahun-tahun. Posisi terakhirnya 10 tahun lalu adalah ketua toliah JI wilayah timur. 

Toliah ini seperti divisi atau bagian khusus logistik dan persenjataan. Pembagian wilayah ini sesuai pusat atau ‘ibu kota’ gerakan JI yang ada di Solo.

Jadi wilayah operasi Sabarno adalah dari Solo ke timur arah Jawa Timur. Sedangkan toliah wilayah barat meliputi semua wilayah di sebelah barat Solo

Jadi 10 tahun lalu Densus 88 Antiteror membongkar keberadaan toliah JI di wilayah Solo Raya, dan menangkapi anak buah Sabarno.

Bahan peledak dan senjata api turut disita. Penangkapan ini membawa informasi struktur lapangan JI dan siapa pemimpin toliah timur JI. 

Nama Sabarno muncul. Sabarno mengendus kemungkinan dirinya bakal dikejar. Ia melepas jabatan ketua toliah, lalu menyelamatkan diri.

Itulah awal dari pelarian panjang Sabarno, yang membawa serta keluarganya. Anak-anaknya masih kecil saat itu.

Sabarno lahir dari keluarga taat agama di Madiun. Ayahnya memberi ilham, memantik ghiroh, dan membentuk militansinya sebagai jamaah.

Baca juga: Berita Terbaru Hari Ini

Saat kecil, ia senang membaca kisah-kisah heroiknya mujahidin Afghanistan, dari buku-buku yang dimiliki ayahnya. 

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved