Wawancara Eksklusif
Perubahan Siklus Tanam Bisa Tingkatkan Produksi Panen Padi
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal kini membidik kenaikan produksi padi menjadi 3,5 juta ton, naik dari sekitar 2,9 juta ton sebelumnya.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Noval Andriansyah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Lampung diketahui memiliki luas daerah sekitar 33.575 km⊃2; dengan jumlah penduduk sekitar 9,3 juta jiwa. Provinsi ini juga dikenal sebagai lumbung padi nasional, dengan luas panen mencapai sekitar 530.110 hektare pada tahun 2024.
Data tersebut naik sekitar 2,3 persen dari tahun sebelumnya, dengan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 2,76 juta ton.
Namun, tren konversi lahan tetap menjadi perhatian. Luas lahan pertanian di Lampung tercatat sekitar 361.700 ha pada 2019 dan mengalami alih fungsi hingga 1.000 hektare per tahun.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah peningkatan produksi padi bisa dipertahankan di tengah kehilangan lahan?
Ditambah lagi, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal kini membidik kenaikan produksi padi menjadi 3,5 juta ton, naik dari sekitar 2,9 juta ton sebelumnya.
Lantas, bagaimana cara merealisasikan target itu? Simak wawancara eksklusif bersama Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha.
1. Bagaimana strategi untuk mewujudkan target Pemprov soal gabah 3,5 juta ton per tahun?
Menurut saya, secara semangat dari kami di kampus dalam mendukung program pemerintah, baik pusat maupun daerah, termasuk bagaimana ITERA juga ikut berkontribusi terhadap target itu. Saya menilai target tersebut sangat realistis. Bahkan, menurut hemat saya, target itu bisa saja lebih dari itu, apalagi kalau Pemprov menerima masukan dari kami.
2. Kenapa bisa dianggap realistis? Bagaimana caranya?
Karena saat ini, jika kita berbasis pada luas sawah, sekitar 370 ribu hektare, baik sawah tadah hujan maupun sawah irigasi, produksi saat ini tergolong rendah secara rata-rata per hektare.
Satu di antara faktornya menurut saya adalah siklus tanam yang sepertinya tidak lebih dari dua kali setahun. Mestinya bisa lebih. Kalau bisa ditingkatkan menjadi tiga kali, tentu hasil panen akan meningkat.
Kedua, dari segi peningkatan produksi, selama ini kita mengandalkan pupuk kimiawi. Padahal pendekatan ini dari tahun ke tahun justru merusak dan mendegredasi kesuburan tanah. Kita harus paham bahwa tanah itu sangat kompleks, ada daya dukung kehidupan, interaksi antara tanaman dan tanah.
Selain itu, teknologi pengairan belum memadai. Padahal banyak cara untuk memanfaatkan air tadah hujan, misalnya dengan menyiapkan tampungan dan wadah lain. Dengan sistem presisi dalam pengairan, kita bisa menyiram sesuai kebutuhan.
Faktor lain adalah pengendalian gulma. Pengolahan tanah juga belum maksimal. Bila proses pembusukan jerami bisa dipercepat, maka masa tanam juga bisa lebih cepat. Jika ini dijadikan konsep, saya yakin produksi padi bisa lebih dari dua kali setahun.
3. Apakah cara ini sudah pernah dicoba dilakukan oleh ITERA?
| Harga Plastik Naik Drastis, DPRD Lampung Waspadai Dampaknya terhadap UMKM |
|
|---|
| ACFFest Hakordia 2026 Hadir di Lampung, Gaungkan Antikorupsi Lewat Film |
|
|---|
| Jelang Mudik Lebaran, Pengelola Tol Siapkan Top Up Saldo Mobile hingga Diskon Tarif |
|
|---|
| Penyebab Bandara Radin Inten II Lampung Belum Bisa Embarkasi Haji Penuh |
|
|---|
| Pengelola Tol Bakter Siapkan Strategi Khusus Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Perubahan-Siklus-Tanam-Bisa-Tingkatkan-Produksi-Panen-Padi.jpg)