Berita Lampung

Kasus DBD di Pringsewu Tembus 746 Kasus, Gadingrejo Jadi Penyumbang Terbanyak

Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pringsewu mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id/M Rangga Yusuf
KASUS DBD - Ilustrasi fogging nyamuk. Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pringsewu mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. 

Ringkasan Berita:
  • Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pringsewu mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. 
  • Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pringsewu dr Hadi Mochtarom mengatakan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak memasuki musim penghujan. 
  • Berdasarkan data per kecamatan, wilayah dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kecamatan Gadingrejo dengan 482 kasus. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PringsewuJumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pringsewu mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. 

Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pringsewu mencatat, sepanjang Januari hingga November 2025 terdapat 746 kasus (DD) Demam Dengue, (DBD) Demam Berdarah Dengue, dan (DSS) Dengue Shock Syndrome, meningkat dari 691 kasus pada periode yang sama tahun 2024 .

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pringsewu dr Hadi Mochtarom mengatakan, peningkatan kasus mulai terlihat sejak memasuki musim penghujan. 

Dalam tiga bulan terakhir, kasus tercatat 18 kasus pada September, meningkat menjadi 26 kasus pada Oktober, dan 24 kasus pada November 2025 .

“Mulai Oktober terjadi peningkatan karena curah hujan tinggi yang memicu banyaknya genangan air sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti,” kata Hadi kepada Tribun Lampung, Selasa (16/12/2025).

Berdasarkan data per kecamatan, wilayah dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kecamatan Gadingrejo dengan 482 kasus. 

Disusul Kecamatan Pringsewu 54 kasus, Pagelaran 51 kasus, Pardasuka 40 kasus, Sukoharjo 35 kasus, Ambarawa 25 kasus, Adiluwih 19 kasus, Pagelaran Utara dan Banyumas masing-masing 10 kasus .

Menurut Hadi, tingginya kasus DBD dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi lingkungan, iklim, dan perilaku masyarakat. 

Permukiman padat, sanitasi yang kurang baik, pengelolaan sampah yang tidak optimal, serta rendahnya penerapan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus masih menjadi persoalan utama.

Dari sisi kelompok umur, kasus DBD terbanyak terjadi pada usia 15–44 tahun dengan 315 kasus, disusul usia di atas 44 tahun sebanyak 175 kasus dan usia 5–14 tahun sebanyak 212 kasus. 

“Kelompok usia produktif dinilai lebih rentan karena mobilitas yang tinggi,” ujarnya.

Pada tahun 2025, Diskes Pringsewu juga mencatat satu kasus kematian akibat DBD di Kabupaten Pringsewu .

Dalam upaya pengendalian, lanjut Hadi, pihaknya telah melakukan berbagai langkah, mulai dari pembagian abate, pemeriksaan jentik berkala, pelaksanaan PSN 3M Plus bersama masyarakat, hingga fogging fokus di wilayah yang memenuhi indikasi hasil penyelidikan epidemiologi .

Namun demikian, Hadi menegaskan fogging bukan solusi utama. 

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik dan telur nyamuk tetap ada. Pencegahan paling efektif tetap PSN 3M Plus yang dilakukan rutin oleh masyarakat,” ujarnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved