Berita Lampung

BPTD Lampung Tutup Satu Trayek Bus Perintis karena Sepi Penumpang

Rute yang ditutup adalah trayek Pasar Panaragan (Tulangbawang Barat) menuju Negara Batin (Way Kanan). 

Penulis: Hurri Agusto | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto
TUTUP TRAYEK PERINTIS - Kepala BPTD Kelas II Lampung, Jonter Sihotang. Ia menyebut satu trayek bus perintis di Lampung ditutup pada 2025 karena sepi penumpang. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Lampung melakukan evaluasi dan penataan ulang layanan angkutan jalan perintis tahun 2026.

Langkah ini diambil guna memastikan subsidi transportasi tepat sasaran dan lebih efektif menjangkau masyarakat.

Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2025, satu rute resmi dihentikan operasionalnya karena minimnya penumpang.

Kepala BPTD Kelas II Lampung Jonter Sihotang menjelaskan, bahwa perubahan ini merupakan bagian dari siklus evaluasi tahunan pemerintah.

Rute yang ditutup adalah trayek Pasar Panaragan (Tulangbawang Barat) menuju Negara Batin (Way Kanan). 

Sebagai gantinya, BPTD membuka rute baru yang dinilai lebih potensial, yakni Panaragan (Tubaba) menuju Kotabumi (Lampung Utara).

"Untuk angkutan perintis, setiap tahun itu kita adakan evaluasi. Memang saat ini kita ada melayani lima trayek. Kemarin hasil evaluasi kita, ada satu trayek yang kita tidak operasikan lagi di tahun 2025, tapi kita ganti dengan satu trayek baru. Jadi jumlahnya tetap lima trayek," ujar Jonter Sihotang, Selasa (27/1/2026).

Menurut Jonter, rendahnya minat masyarakat pada jalur lama menyebabkan bus sering beroperasi dalam keadaan kosong.

"Yang baru itu trayek dari Panaragan Tubaba (Tulang Bawang Barat) ke Kota Bumi (Lampung Utara). Alasan diganti karena trayek yang lama itu berdasarkan evaluasi, load factor-nya atau penumpangnya itu sepi, jadi tidak efektif," ungkapnya.

Jonter membeberkan beberapa faktor yang memicu kurangnya peminat pada trayek perintis di wilayah tertentu, di antaranya kondisi jalan dan kebiasaan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi.

"Masalahnya pertama mungkin kurang sosialisasi, kedua kondisi jalan yang berat sehingga masyarakat lebih memilih naik motor. Maka di 2025 kita alihkan ke rute Tubaba-Kota Bumi yang potensinya lebih besar," tambah Jonter.

Secara historis, panjang trayek subsidi perintis di Lampung mengalami fluktuasi.

Pada tahun 2024, sempat tercatat lonjakan nilai panjang trayek hingga 7.788 km. 

Hal ini bukan disebabkan penambahan rute, melainkan perubahan sistem perhitungan menjadi Pulang-Pergi (PP).

"Trayek Ta 2023 Dan Ta 2024 Sama Tidak Ada Perubahan Trayek, Namun Terdapat Perubahan Nilai Panjang Trayek Menjadi Pp, Menjadikan Nilai Panjang Trayek 2024 Menjadi 2 Kali Lipat Dari Tahun 2023 (Mengikuti Nilai Sk Penetapan Trayek Angkutan Perintis 2024)," kata Jonter.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved