Berita Lampung

Perjuangan Suyadi Selamatkan Padi dari Hama Sundep, Kini Bisa Panen

Di tengah upayanya melawan serangan hama tersebut, Suyadi mendapat bantuan insektisida. 

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
PETANI LAWAN HAMA - Suyadi, petani asal Kampung Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah saat sedang menilik padinya yang sedang dipanen, Selasa (10/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Suyadi, petani di Terbanggi Besar, Lampung Tengah, menghadapi cuaca ekstrem dan hama sundep saat MT I.
  • Tanaman sempat terancam rusak akibat serangan hama.
  • Ia mendapat bantuan insektisida untuk mengatasi sundep.

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Suyadi, petani asal Kampung Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, berjuang menyelamatkan tanaman padinya dari cuaca ekstrem dan serangan hama saat memasuki musim panen Masa Tanam Satu (MT I).

Di tengah upayanya melawan serangan hama tersebut, Suyadi mendapat bantuan insektisida. 

Dengan penyemprotan rutin minimal dua kali sehari, hama berhasil dikendalikan. 

Kini, ia pun mulai memanen padi dari lahan seluas seperempat hektare dengan rasa syukur.

Suyadi mengatakan, ia menyadari tanaman padinya terserang hama sundep pada masa awal tanam atau setelah pemupukan pertama.

Baca juga: Bahar Bin Smith Diperiksa, Polres Metro Tangerang Kota Dijaga Ketat

"Cuaca ekstrem cukup mengganggu proses budidaya, tapi tidak begitu berpengaruh. Justru serangan hama sundep ini yang menjadi kendala utama," kata Suyadi, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, serangan sundep ditandai dengan pucuk daun yang mati, layu, berwarna cokelat, kering, dan mudah dicabut.

Hama tersebut menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil bahkan mati karena larva merusak jaringan di dalam batang.

Beruntung, Suyadi mendapatkan solusi ketika ia dan petani lain yang terdampak sundep memperoleh bantuan insektisida.

"Alhamdulillah, saat terkena sundep kami langsung mendapat bantuan insektisida. Dengan penyemprotan minimal sehari dua kali, hama itu bisa diatasi dan sekarang kami sudah mulai panen," ujarnya.

Terkait produktivitas, Suyadi menyebut hasil panen padinya mencapai 1,5 ton per seperempat hektare pada MT I. Pada MT II, produksinya menurun menjadi 1 ton per seperempat hektare, kemudian kembali meningkat menjadi 1,5 ton per seperempat hektare pada MT III.

Ia menduga penurunan produktivitas pada musim tanam kedua disebabkan oleh cuaca ekstrem yang menghambat proses budidaya.

"Kemungkinan karena cuaca, makanya ada penurunan di musim tanam kedua. Tapi alhamdulillah, kami masih bisa tanam tiga kali dalam setahun," katanya.

Ia menambahkan, dari tiga musim tanam tersebut, modal per hektare mencapai sekitar Rp12 juta, dengan hasil penjualan panen sekitar Rp 30 juta.

Suyadi mengatakan, harga gabah saat ini terbilang stabil dan konsisten. Hasil panen dari sawah langsung diangkut oleh agen untuk kemudian disalurkan ke Bulog.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved