Berita Lampung
Jejak Harimau Muncul di Kebun Nanas Dekat TNWK Lampung Timur, Warga Diminta Waspada
Jejak tersebut ditemukan di kebun nanas yang berbatasan dengan kawasan TNWK. Sedangkan kebun nanas itu milik PT Great Giant Pineapple (GGP).
Ringkasan Berita:
- Warga di sekitar TNWK Jepara, Lampung Timur diminta waspada terkait kemunculan jejak harimau Sumatra.
- Jejak tersebut ditemukan di kebun nanas yang berbatasan dengan kawasan TNWK.
- Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung memastikan jika jejak tersebut sangat identik dengan harimau Sumatra.
Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Jepara, Lampung Timur diminta waspada terkait kemunculan jejak harimau Sumatera.
Jejak tersebut ditemukan di kebun nanas yang berbatasan dengan kawasan TNWK. Sedangkan kebun nanas itu milik PT Great Giant Pineapple (GGP).
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu melalui Seksi KSDA Wilayah III Lampung memastikan jika jejak tersebut sangat identik dengan harimau Sumatra.
Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, mengatakan pihaknya telah melakukan rapid analysis berdasarkan dokumentasi foto dan kondisi di lapangan.
“Sudah dilakukan analisis awal berdasarkan pola jejak dan ukuran. Dari hasil sementara, jejak tersebut sangat identik dengan Harimau Sumatera,” kata Itno dalam keterangannya, Minggu (15/2/2026).
Baca juga: Truk Tertimpa Pohon Tumbang saat Lampung Timur Dilanda Hujan Disertai Badai
Ia menjelaskan, secara morfologis jejak tersebut menunjukkan empat jari telapak tanpa bekas kuku, yang merupakan karakteristik keluarga kucing besar (Felidae).
Selain itu, bantalan tengah telapak kaki tampak besar dengan tiga lekukan di bagian belakang, ciri umum jejak harimau.
Analisis juga memperhitungkan faktor lokasi. Berdasarkan data koordinat, titik temuan berada sekitar 350 meter dari kawasan TNWK yang dikenal sebagai habitat penting satwa dilindungi.
“Kawasan ini merupakan jalur jelajah satwa. Jadi kemunculan jejak di perkebunan masih tergolong wajar,” ujarnya.
Menurut Itno, pergerakan harimau dewasa bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti mencari mangsa, memperluas wilayah teritori, atau sekadar melintas.
“Ini merupakan perilaku alami satwa liar,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan analisis risiko konflik mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48 Tahun 2008, pihak BKSDA menilai potensi konflik manusia dan satwa dalam kasus ini masih tergolong rendah.
Pasalnya, kemunculan satwa baru terdeteksi melalui jejak dan belum menimbulkan kerugian ekonomi maupun korban jiwa.
Meski demikian, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu tetap mengimbau masyarakat dan pihak perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Hasil analisis ini masih bersifat sementara. Kami akan melakukan identifikasi lanjutan di lapangan serta memperkuat koordinasi untuk mencegah potensi konflik ke depan,” pungkas Itno.
| Kisah Pilu Butet, Tunawisma yang Ditemukan Tewas Membusuk di Lorong Bangunan |
|
|---|
| Lagi, Buronan Curanmor di Lampung Serahkan Diri ke Polisi, Alasannya Terkuak |
|
|---|
| Buronan Curanmor di Lampung Sukarela Serahkan Diri, Polisi Ungkap Rahasianya |
|
|---|
| Tembus 45 Persen, PAD Bandar Lampung Ditopang Pajak Hotel dan Restoran |
|
|---|
| Jadwal Pendaftaran SPMB SMA di Lampung, Simak Jalur dan Syaratnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/jejak-kaki-diduga-harimau-sumatera.jpg)