Berita Lampung

Hobi Makan Combro Jadi Usaha Keluarga: Combro Comel Terjual Hingga 1.000 per Hari

Camilan berbahan dasar singkong di outlet tersebut terjual hingga ribuan potong setiap harinya.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Bintang Puji Anggraini
COMBRO - Gita Elinda (29) saat ditemui pada Sabtu (7/3/2026).  Outlet Combro Comel yang berlokasi di Jl. Nusantara Terusan, Jl. Harapan, Jl. Angkasa Raya No. 3, Kota Bandar Lampung 

Dalam sehari, Combro Comel ini mampu mengolah sekitar 50 kilogram singkong, yang dapat menghasilkan sekitar 800 hingga 1.000 combro.

Dengan penjualan sebanyak itu, mereka meraup omzet di puluhan juta dalam sebulan.

Bahan utamanya pun dijaga kualitasnya. Mereka menggunakan singkong ukuran besar yang didapat langsung dari pemasok.

“Kalau orang sering tanya pakai tepung atau tidak, kita tidak pakai. Murni singkong saja, tidak ada campuran,” kata Gita.

Menariknya, ketika usaha ini pertama kali berjalan, produksi mereka masih sangat terbatas. Dengan peralatan sederhana dan wajan kecil, membuat 100 combro saja bisa memakan waktu seharian.

Namun kini dengan perbantuan beberapa karyawan dan peralatan yang lebih canggih dari sebelumnya, membuat banyak combro bukanlah halangan bagi mereka.

Combro Comel dijual dengan harga yang relatif terjangkau mulai dari Rp.1.500 hingga Rp.2.000 per buah.

Combro Comel terus bertahan sebagai bukti bahwa usaha kecil berbasis makanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Selama lebih dari dua dekade, produksi combro dilakukan hanya dari rumah. Baru pada tahun 2023, usaha ini berkembang hingga akhirnya menyewa ruko untuk membuka outlet.

Kini, Combro Comel melayani pembelian langsung di toko maupun secara online melalui WhatsApp dan aplikasi layanan pesan antar.

Meski sudah berjalan lebih dari 20 tahun, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling terasa adalah mengenalkan makanan tradisional seperti combro kepada generasi muda.

“Sekarang banyak anak Gen Z yang bahkan tidak tahu combro itu apa. Mereka sampai tanya, ‘Isinya apa sih, Kak?’,” ujar Gita.

Karena itu, inovasi rasa dan bentuk menjadi cara mereka lakukan agar makanan tradisional tetap diminati.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved