Berita Lampung

Khotib Muhajir Ingatkan Warga Muhammadiyah Implementasikan Madrasah Ramadan 

Lokasi salat Idul Fitri 2026 warga Muhammadiyah tersebar di seluruh wilayah Lampung.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra
LEBARAN- Suasan salat idul fitri 1447 hijriah di Gedung Wanita, Kota Bandar Lampung, Jumat (20/3/2026).(Bayu Saputra)  
Ringkasan Berita:

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Warga Muhammadiyah Lampung melakukan salat Idul Fitri 1447 hijriah, Jumat (20/3/2026).

Lokasi salat Idul Fitri 2026 warga Muhammadiyah tersebar di seluruh wilayah Lampung.

Antara lain di Gedung Wanita Kota Bandar Lampung di Jalan Kapten Tendean, Kelurahan Palapa, Kecamatan Tanjungkarang Pusat. 

Warga Muhammadiyah berduyun-duyun datang ke gedung wanita atau di depan gedung dakwah Muhammadiyah Lampung sekitar pukul 06.30 WIB.

Para warga Muhammadiyah tersebut memadati saf-saf di pelataran parkir Gedung Wanita tersebut. Juga memenuhi dalam gedung dengan membawa sajadah hingga koran untuk alasnya. 

Baca juga: Warga Muhammadiyah di Lampung Tengah Salat Idul Fitri di 111 Titik

Para orang tua yang telah lanjut usia dan memiliki kendala kesehatan juga melaksanakan salat ied dengan khusyuk. 

Masyarakat Muhammadiyah dengan khusyuk melakukan salat setahun sekali tersebut. Cuaca cukup sejuk, pelaksanaan salat Idul Fitri berjalan lancar. 

Pihak kepolisian berjaga ketat di areal gedung wanita lokasi salat Idul Fitri warga Muhammadiyah. 

Khatib dan sekaligus imam salat Idul Fitri 1447 hijriah di gedung wanita, Muhajir memberi pemahaman kepada jamaah salat untuk mengimplikasikan madrasah selama Ramadan atau bulan puasa berlangsung. 

"Saya mencoba untuk mengingatkan kembali serta berharap diimplementasikan madrasah ramadan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya. 

Pihaknya berharap agar peran yang dilakukan sebagai alumni madrasah Ramadan bisa diimplementasikan. 

Karena Ramadan ini sejatinya seperti madrasah satu bulan. "Kita saat puasa sudah digembleng, kemudian nilai-nilai madrasah yang sudah kita dapatkan selama satu bulan itu bagaimana kita bisa diambil perannya untuk kehidupan sebelas bulan lainnya," kata Muhajir. 

​Muhajir mengatakan, ada tiga peran yang harus diingat di antaranya peran individu. "Karena dari diri semua orang, perannya harus dijaga keistiqomahan pelaksanaan ibadah yang sudah dilaksanakan selama satu bulan," tukas Muhajir. 

​"Kemudian peran keluarga bahwa bagaimana kita membangun keluarga yang penuh dengan ketenangan, keluarga yang harmonis," imbuh Muhajir.

Hingga keluarga yang jauh dari pertengkaran dan seterusnya. Karena dari keluarga yang kuat ini nanti akan melahirkan bangsa yang kuat.

​Muhajir menjelaskan bahwa peran selanjutnya yakni kebangsaan. Dengan peran untuk kebangsaan yang lebih luas lagi yaitu dengan bagaimana kita bisa menebar kebermanfaatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat di mana pun berada.

Sebagaimana yang dipesankan Rasulullah SAW, “Khoirunnas anfauhum linnas”. Manusia terbaik itu adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesamanya.

Kemudian terkait adanya perbedaan salat idul fitri antara Muhammadiyah dengan ormas keagaaman lainnya, Muhajir mengatakan, tentunya adanya perbedaan-perbedaan itu untuk lebih dewasa.

"Tidak ada masalah terkait perbedaan saat salat idul fitri dengan ormas islam lainnya dan karena ini hasil ijtihad," kata Muhajir.

Adapun hasil ijtihad dari Muhammadiyah yang dilakukan pada 20 Maret 2026, kemudian dari pemerintah dan ormas yang lain itu di besok pada 21 Maret 2026?

"Kemudian bahkan ada ormas itu yang di hari Kamis juga berlebaran dan hasil ijtihad," kata Muhajir.

Segi mendewasakan umat dan memang di Indonesia sudah terbiasa adanya perbedaan. 

"Justru dengan perbedaan ini maka kehidupan kita akan semakin indah. Jadi kita saling menghargai saja, tidak mengejek dan seterusnya," kata Muhajir.

Pihaknya berharap saling menghargai dengan adanya perbedaan ini.

Warga Jogja, Desi mengaku senang dengan salat idul fitri lebih dulu. 

"Kami dari Jogja, Alhamdulillah bisa berkumpul keluarga bersama kakek nenek yang sudah 70-80 tahun. Dengan Ramadan kita membersihkan jiwa dan menjadi kembali suci. 

Dirinya sedih karena tidak bisa bareng lebaranmya. " Tahun ini sangat disayangkan sekali karena nggak bisa bareng lebaranmya," kata Desi. 

Desi berharap semoga pemerintah bisa berusaha salat idul fitri bareng. "Harapannya bisa sama-sama salat idul fitri, sehingga lebarannya semangatnya bisa bersama-sama juga," kata Desi.(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved