Berita Lampung

Hilirisasi Peternakan, DPRD Sebut Ayam Fillet Bisa Diolah di Lampung

Menurut Mikdar, Lampung memiliki potensi besar di sektor peternakan sehingga hasil ternak tidak seharusnya dijual dalam bentuk mentah.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Dokumentasi
HILIRISASI PETERNAKAN - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung Mikdar Ilyas. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Program hilirisasi peternakan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Lampung mendapat dukungan dari DPRD Lampung

Mikdar Ilyas, anggota Komisi II DPRD Lampung yang membidangi soal peternakan, menilai pengolahan hasil peternakan di dalam daerah dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Menurut Mikdar, Lampung memiliki potensi besar di sektor peternakan sehingga hasil ternak tidak seharusnya dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah.

Dia mencontohkan ayam fillet yang selama ini banyak dibeli dari luar daerah. Padahal daging mentahnya dari Lampung

“Kalau bisa ayam fillet dipenuhi dari Lampung sendiri. Selama ini pengolahan di Lampung masih terbatas sehingga kebutuhan ayam fillet masih banyak didatangkan dari luar daerah, sehingga itulah konsep-konsep hilirisasi yang perlu dikembangkan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Ia mengatakan Pemprov Lampung bersama organisasi perangkat daerah terkait juga telah membahas pembangunan rumah potong hewan unggas di Lampung

Langkah tersebut dinilai penting agar hasil ternak dapat diolah langsung di daerah sebelum dipasarkan.

Menurutnya, selama ini ayam dari Lampung banyak dikirim dalam kondisi mentah ke luar daerah, kemudian kembali masuk ke Lampung setelah dipotong dan diolah.

“Jadi jangan lagi kita menjual ayam mentah lalu membeli kembali setelah dipotong. Hilirisasi ini harus melibatkan banyak pihak supaya menambah lapangan kerja dan menguntungkan peternak,” katanya.

Tak hanya unggas, Mikdar juga mendorong pengolahan sapi potong menjadi produk daging segar maupun olahan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Saat ini, kata dia, daging sapi slice juga banyak dibeli dari luar daerah. Sementara Lampung menjual sapi hidup ke luar. 

Apabila ada rumah potong di Lampung, kata dia, dapat meningkatkan ekonomi daerah. Terlebih, Lampung memiliki ribuan dapur MBG. 

Ia mencontohkan kebutuhan protein hewani untuk program dapur makan bergizi yang jumlahnya cukup besar. 

Dengan asumsi terdapat 1.500 dapur dan masing-masing melayani sekitar 2.000 penerima manfaat, kebutuhan daging sapi dan ayam dinilai sangat potensial dipenuhi dari hasil peternakan Lampung.

“Kalau daging sapi 1 kilogram bisa menjadi sekitar 20 potong untuk kebutuhan penerima manfaat. Begitu juga ayam potong satu ekor bisa menjadi 10 potong,” jelasnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved