Kasus Campak di Lampung
Kasus Campak Melejit karena Dianggap Enteng, Dinkes Ungkap Gejala dan Pencegahannya
Kadinkes Provinsi Lampung, dr. Edwin Rusli, menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang memandang sebelah mata penyakit campak.
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Kiki Novilia
Ringkasan Berita:
- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Edwin Rusli, menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang memandang sebelah mata penyakit campak.
- Padahal, kata dia penyakit campak dapat terjadi komplikasi yang menyebabkan diare berat, radang paru, radang otak dan kebutaan bahkan kematian.
- Dinkes meminta para orang tua dan masyarakat umum untuk jeli melihat tanda-tanda penyakit campak pada anggota keluarganya.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Edwin Rusli, menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang memandang sebelah mata penyakit campak.
"Penyakit campak sering dianggap penyakit tampek atau gabaken yang dapat sembuh sendiri dan dianggap tidak berbahaya oleh masyarakat, sehingga masyarakat menjadi abai," kata dr. Edwin Rusli kepada Tribunlampung, Selasa (31/3/2026).
Padahal, kata dia penyakit campak dapat terjadi komplikasi yang menyebabkan diare berat, radang paru, radang otak dan kebutaan bahkan kematian.
Secara rinci, Edwin membeberkan empat poin utama yang menjadi penyebab tingginya kasus suspek campak di Lampung.
Pertama, cakupan imunisasi campak rubella/MR yang tidak merata dan belum tinggi hingga ke tingkat desa/kelurahan.
Baca juga: Penyebab Kasus Campak di Lampung Melonjak Drastis, Kadiskes Beri Penjelasan
Kedua, tingginya mobilitas penduduk antarwilayah yang secara otomatis mempercepat laju penularan.
"Pola penyebaran penyakit yang tidak memandang usia serta memiliki daya tular tinggi, di mana 1 penderita bisa menularkan ke 18 orang," jelasnya.
Ia juga menyebut, meningkatnya kasus campak juga dipengaruhi informasi hoaks terkait vaksin di tengah masyarakat.
"Keberadaan kelompok antivaksin, isu kehalalan, hingga hambatan izin keluarga (seperti suami atau nenek) yang takut bayinya demam. Hal ini memicu gagalnya pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) karena target cakupan imunisasi di atas 95 persen tidak tercapai," Jelasnya.
Dengan kondisi ini, Dinkes meminta para orang tua dan masyarakat umum untuk jeli melihat tanda-tanda fisik pada anak.
"Tersangka atau suspek campak dapat segera ditemukan dengan melihat 2 gejala klinis yaitu adanya demam di atas 39 derajat celsius dan adanya bintik merah atau ruam dikulit," ungkap Edwin.
Jika menemukan penderita dengan dua gejala tersebut, orang tua diminta tidak mengobatinya secara mandiri.
"Anak harus segera dibawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat," tegasnya.
Selain itu, masyarakat diminta langsung melapor ke puskesmas agar petugas bisa turun tangan melakukan investigasi Penyelidikan Epidemiologi (PE) guna melacak penyebaran kasus lainnya.
Dalam upaya meredam dan menekan laju kasus campak, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menjalankan 11 langkah strategis yang saling terintegrasi.
| Penularan Campak Relatif Cepat, Dokter Ingkatkan Isolasi Mandiri dan Pentingnya Imunisasi |
|
|---|
| RSUDAM Siapkan Ruang Khusus Bagi Pasien Campak, Kondisi Berat Dirawat di PNRE |
|
|---|
| RSUDAM Catat 2 Kasus Kematian Anak Diduga Campak, Keduanya Belum Diimunisasi |
|
|---|
| Didominasi Balita, Anak Usia 1-5 Tahun Paling Rentan Terpapar Campak |
|
|---|
| Kasus Suspek Campak di Lampung Meningkat, RSUDAM Rawat 76 Pasien Sejak Awal 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Kesehatan-Dinkes-Provinsi-Lampung-Edwin-Rusli.jpg)