Kasus Campak di Lampung

Kasus Campak di Lampung Meningkat, Ini Kelompok yang Paling Rentan Tertular

Kadiskes Lampung dr Edwin Rusli mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang salah kaprah menilai campak sebagai penyakit ringan.

Tayang:
Tribunnews.com/HO/IST
PENYAKIT CAMPAK - Kemenkes RI mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya kasus campak di Indonesia, khususnya bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan. Kasus campak di Lampung meningkat, kelompok paling rentan tertular diungkap akademisi. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus campak di Lampung meningkat dalam kurun tiga bulan pertama di tahun 2026. 
  • Kadiskes Lampung dr Edwin Rusli mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang salah kaprah menilai campak sebagai penyakit ringan.
  • Akademisi sekaligus dosen epidemiologi Universitas Malahayati, Agung Aji Perdana, menilai bahwa lonjakan ini harus disikapi dengan serius 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kasus campak di Lampung meningkat dalam kurun tiga bulan pertama di tahun 2026. Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung hingga 30 Maret 2026, kasus suspek campak tercatat 591 orang dengan 52 kasus positif.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan data selama setahun pada tahun 2025 sebanyak 500 kasus suspek campak dengan 28 di antaranya positif. Kemudian pada tahun 2024 sebanyak 347 kasus campak dengan 24 kasus positif.

Kadiskes Lampung dr Edwin Rusli mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang salah kaprah menilai campak sebagai penyakit ringan. “Campak sering dianggap penyakit yang bisa sembuh sendiri, sehingga masyarakat menjadi abai,” ujarnya. 

Padahal, penyakit ini dapat menyebabkan diare berat, radang paru, radang otak, kebutaan, hingga kematian.

Diskes Lampung meminta orang tua dan masyarakat jeli memantau tanda-tanda campak pada anak dan memastikan imunisasi lengkap, guna mencegah penyebaran penyakit dan komplikasi serius.

Baca juga: Kasus Campak Melejit karena Dianggap Enteng, Dinkes Ungkap Gejala dan Pencegahannya

Tingginya suspek campak di Provinsi Lampung dalam kurun waktu tiga bulan pertama pada 2026 mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi.

Akademisi sekaligus dosen epidemiologi Universitas Malahayati, Agung Aji Perdana, menilai bahwa lonjakan ini harus disikapi dengan serius karena peningkatannya mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Agung mengungkap, terdapat dua faktor risiko utama yang menyebabkan penyakit menular ini merebak cepat di Lampung. "Penyebab utama daripada campak ini adalah virus. Virus campak ini bisa menyebar kepada kelompok-kelompok masyarakat yang memang tidak diimunisasi campak," ujar Agung dikonfirmasi, Selasa (31/3/2026).

Selain itu, ia menilai penyebab lainnya yakni karena rendahnya angka cakupan anak yang telah diimunisasi campak di Lampung. "Data yang saya ketahui, bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap kita di Provinsi Lampung itu mencapai 81 persen tahun 2025, di mana targetnya itu seharusnya 95 persen," jelasnya.

Gap atau jarak 14 persen itulah yang menyebabkan meningkatnya kasus campak di Provinsi Lampung karena kekebalan imun kelompok tidak terbentuk dengan baik. "Kalau kita bedah di semua Kabupaten Kota, kemungkinan besar pasti ada wilayah yang cakupan imunisasinya bahkan berada di bawah 80 persen," kata dia.

Selain masalah imunisasi, Agung menilai pola penularan virus ini di masyarakat juga menjadi pemicu utama lainnya. "Yang kedua faktor risikonya itu adalah terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS," kata dia.

Sama seperti Covid-19, ia menyebut campak ini menular melalui droplet atau percikan dari bersin dan batuk penderita suspek campak, penderita campak.

"Maka pencegahannya mirip dengan Covid, Pak. Kalau kita dulu mengenal 3M atau 5M itu, nah itulah salah satu upaya pencegahan dan juga sekaligus faktor risiko yang kedua setelah cakupan imunisasi," imbuhnya.

Agung mengingatkan, meskipun virus campak secara umum bisa menginfeksi semua golongan umur, ada kelompok rentan dengan potensi bahaya luar biasa.

"Secara umum semua orang bisa tertular daripada virus campak, tapi yang paling rentan terkena daripada virus campak ini adalah bayi balita terutama yang tidak imunisasi, ibu hamil, dan juga para lansia kita," bebernya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved