Berita Lampung

Ancaman Hama Sundep, Petani Trimurjo Lampung tengah Dihantui Risiko Gagal Tanam

petani di Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah menghadapi ancaman yang bisa menguras kantong: serangan hama sundep.

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
ANCAMAN HAMA - Eko sedang melakukan pengolahan tanah dan sebelum dilakukan penanaman padi Musim Tanam 2. Ancaman hama sundep, petani Trimurjo Lampung tengah dihantui risiko gagal tanam. 

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Memasuki musim tanam kedua (MT2) pada April, petani di Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah tak hanya bersiap menanam padi, tetapi juga menghadapi ancaman yang bisa menguras kantong: serangan hama sundep.

Bagi petani seperti Eko, warga Kampung Liman Benawi, persoalan musim ini bukan sekadar soal teknis budidaya, melainkan risiko ekonomi yang nyata. Ia tengah mengolah lahan sawah seluas tiga perempat hektare, di tengah kekhawatiran melihat lahan di wilayah sekitar yang sudah terserang hama.

Di Kampung Adirejo yang berbatasan dengan lahannya, sejumlah sawah bahkan dibiarkan terbengkalai setelah terserang sundep. Kondisi ini menjadi sinyal ancaman serius yang bisa menjalar ke lahan lain.

“Kalau MT2 ini yang paling dikhawatirkan hama. Di sebelah sudah ada yang kena sekitar setengah hektare,” ujar Eko, Senin (6/4/2026).

Menurut Eko, serangan hama sundep memang bukan hal baru. Namun, dampaknya terhadap biaya produksi menjadi persoalan yang paling memberatkan. Jika serangan terjadi, petani tak punya banyak pilihan selain melakukan tanam ulang, yang berarti biaya kembali dari awal.

Untuk satu musim tanam, Eko memperkirakan biaya nutrisi dan obat-obatan saja bisa mencapai Rp2 juta. Angka itu belum termasuk ongkos tenaga kerja dan operasional lainnya. Jika harus tanam ulang, biaya bisa melonjak dua kali lipat.

“Kalau sampai tanam ulang, jelas biaya bertambah. Belum lagi perawatan sampai panen,” katanya.

Tak hanya biaya, produktivitas juga menjadi taruhan. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, hasil panen MT2 selalu lebih rendah dibanding MT1. Dari sebelumnya 2,5 ton gabah, hasilnya turun menjadi sekitar 2 ton di musim kedua.

Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan air saat memasuki musim kemarau. Jaringan irigasi yang tidak menjangkau lahannya membuat Eko harus mengandalkan pompa air untuk memenuhi kebutuhan pengairan.

“Irigasi ada, tapi sampai ke sawah saya sudah kecil. Jadi harus pakai pompa alkon,” ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, Eko mencoba beradaptasi dengan menerapkan metode pertanian modern, termasuk penggunaan bahan pembusuk rumput untuk mempercepat pengolahan lahan dan menjaga kualitas tanah.

Namun demikian, ketidakpastian tetap membayangi. Bagi petani di Trimurjo, musim tanam kedua bukan hanya soal menanam, tetapi juga tentang bertahan dari risiko kerugian yang terus mengintai.

( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq ) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved