Berita Lampung

Gencatan Senjata AS-Iran, Pengamat Bicara soal Peluang dan Tantangan bagi Lampung

Simon mengatakan, langkah Trump dalam mendorong gencatan senjata bertujuan untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz.

|
Tribunnews.com/HO/IST
GENCATAN SENJATA - Akademisi FISIP Unila Simon S Hutagalung menyoroti keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan gencatan senjata dengan Iran. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Gencatan senjata yang disepakati Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar upaya perdamaian.

Menurut akademisi Unila, Simon S Hutagalung, gencatan senjata tersebut bisa menjadi peluang bagi Lampung.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua minggu.

Keputusan tersebut diambil setelah diskusi intensif dengan kepemimpinan Pakistan yang bertindak sebagai mediator dalam konflik antara AS dan Iran.

Simon mengatakan, langkah Trump dalam mendorong gencatan senjata bertujuan untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz.

"Ketegangan antara Amerika dan Iran selama ini bukan hanya soal ideologi, tetapi juga soal kontrol wilayah strategis dan jalur energi. Dengan menurunkan eskalasi, Amerika berusaha memastikan jalur vital seperti Selat Hormuz tetap aman dan dapat diprediksi," ujar Simon, Rabu (8/4/2026).

Menurut Ketua Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unila ini, keamanan Selat Hormuz menjadi penting karena berdampak langsung pada stabilitas harga minyak dunia.

Ketika jalur ini aman, negara-negara industri bisa mempertahankan kestabilan ekonomi.

Namun, Simon menekankan bahwa stabilitas ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada dinamika kekuatan antarnegara.

Bagi Indonesia, termasuk Lampung, terbukanya Selat Hormuz membawa keuntungan relatif.

Sebagai negara importir energi, Indonesia akan mendapat manfaat dari harga minyak yang lebih stabil.

"Kondisi ini membantu menekan tekanan fiskal dan menjaga stabilitas ekonomi domestik. Tapi dari perspektif realisme, kita tetap rentan karena bergantung pada dinamika eksternal yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya," kata Simon.

Dampak stabilitas global ini juga terasa di tingkat daerah. Di Lampung, harga energi yang stabil berpengaruh pada biaya produksi dan distribusi di sektor pertanian dan logistik.

Meskipun demikian, Lampung tetap menjadi price taker karena tidak memiliki kendali atas variabel global tersebut.

Simon menambahkan, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi peluang bagi Lampung untuk meningkatkan daya saing ekspor dan memperkuat posisi dalam jaringan perdagangan internasional.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved