Berita Lampung

Pengamat HI Unila: Stabilitas Selat Hormuz Berdampak pada Ekonomi Lampung

Amerika Serikat (AS) mempunyai peran penting menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

|
Tribunlampung.co.id/Istimewa
SELAT HORMUZ - Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung Iwan Sulistyo menyoroti peran penting Amerika Serikat (AS) dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya terkait gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz. 

Ringkasan Berita:
  • Dosen HI FISIP Universitas Lampung wan Sulistyo menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak global.
  • Amerika Serikat (AS) mempunyai peran penting menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
  • Khususnya terkait gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dosen Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Iwan Sulistyo menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak global.

Amerika Serikat (AS) mempunyai peran penting menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Khususnya terkait gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz.

Menurut Iwan, pernyataan Presiden AS, Donald Trump tentang gencatan senjata muncul setelah langkah diplomasi yang dikombinasikan dengan gertakan militer terhadap Teheran, Iran.

"Dalam kajian strategis, kredibilitas gertakan dari negara Adidaya seperti AS jelas kuat. Anggaran pertahanan mereka terbesar di dunia, melebihi Nato maupun Uni Eropa. Efek gentar tentu ada," ujar Iwan, Rabu (8/4/2026).

Ketidakamanan di Selat Hormuz, lanjut dia, akan berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Asia, Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah. Sama krusialnya dengan Selat Malaka maupun Terusan Suez.

Baca juga: Peringatan Terakhir Trump ke Iran, Buka Selat Hormuz atau Seluruh Negara Hancur

Iwan menilai, gencatan senjata idealnya tidak hanya bersifat sementara. Tetapi mampu menciptakan perdamaian jangka panjang dan jaminan keamanan bersama di Selat Hormuz.

Hal ini, kata dia, sangat terkait dengan ketergantungan global terhadap minyak mentah. "Kekuatan militer dan posisi geografis menjadi instrumen penekan di atas papan catur geopolitik," ujarnya.

Stabilitas di jalur laut strategis tidak hanya penting bagi negara besar, tapi juga berimplikasi langsung pada sektor energi dan perdagangan internasional.

"AS kerap ikut campur untuk menjamin keamanan, karena menyerahkan sepenuhnya kepada negara terdekat dianggap kurang efektif," jelas Iwan.

Ditambahkan Iwan, dampak terbukanya Selat Hormuz terhadap harga minyak dunia akan langsung memengaruhi Indonesia, termasuk daerah Lampung.

"Sebagian besar impor minyak mentah kita melewati jalur ini. Stabilitas keamanan akan berdampak pada harga dan ketersediaan energi, yang selanjutnya memengaruhi sektor pertanian dan logistik di Lampung," katanya.

Menurut Iwan, peluang ekonomi Lampung tetap terbuka. Produk pertanian unggulan seperti kopi, rempah, kelapa, lada, pisang, dan nanas berpotensi diekspor ke negara-negara di kawasan Asia Timur maupun Timur Tengah.

"Jika jalur ekspor aman, peluang pendapatan meningkat. Tapi tentu strategi pengelolaan dan diversifikasi energi juga harus diperhatikan," ucapnya.

Iwan menekankan pentingnya pemerintah daerah Lampung memanfaatkan kondisi global untuk memaksimalkan peluang dan meminimalkan risiko.

Salah satu langkahnya adalah mendorong ekspor komoditas unggulan dan memulai peralihan ke energi alternatif, seperti panas bumi atau biofuel.

"Transisi ke energi baru memang tidak bisa instan. Namun, dengan kajian dari perguruan tinggi dan perencanaan matang, Lampung bisa menghadapi tantangan ini sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi global," tukasnya.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved