Polisi Meninggal Ditembak di Lampung

Kebaikan Tak Terduga Bripka Arya Supena, Maafkan Pencuri dan Antar ke Pondok Pesantren

Kebaikan Bripka Anumerta Arya Supena semasa hidup akhirnya diungkap oleh keluarga besarnya.

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
KEBAIKAN BRIPKA ARYA - Kebaikan Bripka Anumerta Arya Supena semasa hidup akhirnya diungkap oleh keluarga besarnya. Ia rupanya memaafkan pencuri hpnya dan mengantarnya ke pondok pesantren. 

Ringkasan Berita:
  • Kebaikan Bripka Anumerta Arya Supena semasa hidup akhirnya diungkap oleh keluarga besarnya.
  • Arya rupanya memaafkan pelaku yang mencuri ponselnya dan mengantarkannya ke pondok pesantren untuk dibina. 
  • Selain itu, Arya memaafkan petugas yang tidak sengaja membuat mobilnya tergores saat dicuci di tempat pencucian mobil (steam).

Tribunlampung.co.id, Metro - Kebaikan Bripka Anumerta Arya Supena semasa hidup akhirnya diungkap oleh keluarga besarnya.

Sang ayah, Sukadi, mengenang putranya sebagai sosok yang sederhana, lembut dan penuh kebesaran jiwa, termasuk dalam menghadapi orang lain yang berbuat salah.

Hal itu terlihat dari dua pengalaman yang sangat membekas bagi keluarga. Salah satunya terjadi saat mobil milik Arya tidak sengaja tergores ketika dicuci di tempat pencucian mobil (steam).

Alih-alih marah atau meminta ganti rugi, Arya justru memilih memaafkan petugas dan memberikan uang tip.

“Mobilnya kena (saat dicuci), malah dikasih uang tip. Dia bilang, ‘nggak apa-apa Mas’, tidak mau minta ganti cat atau apa, padahal mobilnya tergores,” ujar ayah Bripka Arya, Sukadi, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: Kapolda Helfi Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Buntut Gugurnya Bripka Arya Supena

Sikap yang sama juga terlihat ketika Arya menangani kasus pencurian ponselnya sendiri. Meski sebagai polisi ia berwenang memproses pelaku secara hukum, Arya justru memilih jalan pembinaan.

Ia memberikan pilihan kepada pelaku diproses hukum atau dibina di pondok pesantren. Saat pelaku memilih dibina, Arya sendiri yang mengantarkan dan menitipkannya kepada seorang kiai untuk dibimbing.

“Dititipkan sama kiai-nya. Arya bilang, ‘Pak, anak ini mencuri HP, dia lebih baik di pondok daripada di penjara. Saya titipkan tiga bulan untuk belajar ngaji,’” ungkap Sukadi.

Bagi keluarga, dua kisah itu menjadi gambaran nyata sosok Arya: tegas dalam prinsip, namun lembut dalam hati, serta selalu memberi ruang bagi kebaikan dan perubahan.

Selain itu, Arya dikenal sangat rendah hati hingga banyak warga di lingkungan tempat tinggalnya tidak mengetahui bahwa ia seorang anggota Polri.

Ia jarang terlihat mengenakan seragam di rumah maupun di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya rasa orang sekampung ini, Arya pakai pakaian polisi belum ada yang melihat. Tetangga dua rumah dari dia saja tidak tahu kalau dia polisi,” kenang Sukadi.

Bahkan, kata Sukadi, sang ibu sempat beberapa kali menggoda Arya karena tidak pernah melihat putranya mengenakan seragam kebanggaan tersebut.

Menuruti permintaan itu, Arya pun sesekali memakai seragamnya di rumah untuk berfoto bersama keluarga.

“Saking ibunya ingin melihat anaknya pakai seragam,” tambahnya.

( Tribunlampung.co.id / Fajar Ikhwani S )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved