Berita Lampung

Potensi Migas Blok SES Besar, HIPMI Lamtim Soroti Ketimpangan Manfaat untuk Daerah

Nanda menyebutkan, potensi ekonomi Blok SES diperkirakan mencapai Rp 25 miliar hingga Rp 32 miliar per hari dari sektor migas.

Tayang:
Penulis: Bayu Saputra | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Dokumentasi Nanda
POTENSI MIGAS - Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Timur, Nanda Vesti Naliu. Potensi Migas Blok SES Besar, HIPMI Lamtim soroti ketimpangan manfaat untuk daerah. 

Tribunlampung.co.id, Lampung TimurWakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung Timur, Nanda Vesti Naliu, menyoroti besarnya potensi ekonomi dari Blok SES atau Offshore Southeast Sumatra (OSES) yang dikelola Pertamina Hulu Energi OSES.

Menurutnya, Kabupaten Lampung Timur telah menjadi salah satu wilayah strategis dalam rantai produksi energi nasional. Namun, besarnya nilai ekonomi sektor minyak dan gas tersebut dinilai belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat daerah penghasil.

Nanda menyebutkan, potensi ekonomi Blok SES diperkirakan mencapai Rp 25 miliar hingga Rp 32 miliar per hari dari sektor migas.

Ia menilai masyarakat daerah saat ini masih sebatas menjadi penonton di tengah besarnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayahnya sendiri.

“Pasca persoalan Participating Interest (PI), masyarakat daerah pada akhirnya hanya menjadi penonton atas besarnya potensi sumber daya yang berada di wilayahnya sendiri,” ujar Nanda, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Penahanan Arinal Djunaidi Jadi Uji Pembuktian Kasus PI Migas Rp 271 Miliar

Ia menilai angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya posisi Lampung dalam sektor energi nasional.

Namun di sisi lain, Lampung Timur dianggap belum memperoleh manfaat yang proporsional dibandingkan nilai ekonomi yang dihasilkan.

“Kami mempertanyakan mengapa wilayah penghasil justru hanya menerima bagian paling kecil dari aktivitas ekonomi bernilai sangat besar ini,” katanya.

HIPMI Lampung Timur memandang persoalan tersebut bukan hanya isu fiskal daerah, melainkan menyangkut ekonomi politik pembangunan dan tata kelola sumber daya alam.

Menurut Nanda, persoalan utama terletak pada belum optimalnya desain tata kelola sektor ekstraktif dalam menghubungkan aktivitas produksi dengan penciptaan nilai ekonomi serta distribusi manfaat yang adil bagi daerah penghasil.

Berdasarkan data produksi historis dan aktivitas pengeboran terkini, termasuk keberhasilan pengeboran sumur horizontal Yvonne-A pada awal 2026 dengan produksi sekitar 528 barel per hari, Blok SES diperkirakan beroperasi pada kisaran 18.000 hingga 21.000 barel minyak per hari.

Dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang mencapai USD102,05 per barel pada 12 Mei 2026, nilai produksi kotor Blok SES diperkirakan mencapai Rp25 hingga Rp32 miliar per hari atau setara Rp9 hingga Rp11 triliun per tahun.

Menurut Nanda, capaian produksi tersebut tidak hanya memiliki dimensi teknis dan ekonomi, tetapi juga mengandung implikasi struktural terhadap tata kelola sumber daya dan distribusi manfaat pembangunan.

“Dalam konteks inilah penting menggunakan pendekatan akademik dan kerangka resource governance untuk membaca persoalan migas secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved