Angka Putus Sekolah di Lampung

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdikbud Lampung Uji Coba Program Kelas Cangkok

Tekan angka putus sekolah, Disdikbud Lampung menyiapkan sejumlah program strategis yakni sekolah cangkok.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id
KELAS CANGKOK - Kadisdik Lampung Thomas Amirico. Tekan angka putus sekolah, Disdikbud bakal uji coba kelas cangkok. 

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), terdapat 794.493 siswa SD pada tahun ajaran 2023/2024, 794.882 siswa pada tahun pelajaran 2024/2025, dan 795.773 siswa pada tahun pelajaran 2025/2026.

Adapun siswa SMP pada tahun pelajaran 2023/2024 berjumlah 334.742 orang, tahun pelajaran 2024/2025 berjumlah 339.494 orang, dan tahun pelajaran 2025/2026 terdapat 341.094 orang.

Jika merujuk pada data Desil 1 dan Desil 2, Thomas mengatakan angka indikasi putus sekolah memang sempat menyentuh kisaran 277.000 siswa. 

Namun, setelah ditelusuri, tingginya angka pada database awal kependudukan tersebut terjadi akibat adanya anomali administrasi di mana jutaan warga belum memperbarui status pendidikannya di kartu keluarga (KK).

"Ternyata di data Disdukcapil kita ini, ternyata ada lulusan SMA kemudian dia sudah kuliah, tetapi di KK-nya masih statusnya SD," kata Thomas, Selasa (2/6/2026).

Ia mengatakan, Disdikbud saat ini tengah melakukan supervisi kepada instansi terkait di kabupaten/kota agar memperbaiki proses pendataan.

"Ada jutaan orang yang posisi di KK-nya masih SD padahal dia sudah tamat SMP. Ada yang di KK-nya masih lulusan SMP status pendidikannya, tetapi dia sudah tamat SMA maupun kuliah. Ini yang harus di-upgrade," tutur Thomas.

Menurut dia, dalam pemetaan cakupan pendidikan di Lampung, terdapat ketimpangan yang cukup terlihat antarwilayah. 

"Daerah yang mencatat tingkat cakupan pendidikan tinggi hingga ke jenjang perguruan tinggi ada tiga, yaitu Bandar Lampung, Pringsewu, dan Metro," sebut Thomas.

Sementara, kata Thomas, ada sejumlah wilayah yang angka lanjutan sekolahnya terpantau masih cukup rendah.

"Yang rendah itu seperti Mesuji, sebagian Pesawaran, sebagian Tanggamus, Lampung Utara, Way Kanan, dan Pesisir Barat," lanjutnya.

Dari hasil evaluasi, Thomas menegaskan bahwa persoalan ini bukan disebabkan oleh keterbatasan daya tampung sekolah

"Daya tampung gabungan antara sekolah negeri dan swasta di Lampung sebenarnya sudah sangat mencukupi, bahkan banyak sekolah swasta yang kekurangan murid," imbuh dia.

Menurut Thomas, akar masalah utama anak putus sekolah di lapangan murni dipicu oleh faktor nonteknis, seperti masalah budaya, kondisi ekonomi, kenakalan remaja, serta pengaruh lingkungan sekitar.

Guna mengatasi problem putus sekolah tersebut secara menyeluruh, Disdikbud Lampung menerapkan sejumlah langkah taktis. 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved