Pembangunan Pabrik Bioetanol di Lampung
Lampung Jadi Pilot Project Bioetanol Nasional, Target Produksi 250 Ribu KL per Tahun
Target awal produksi bioetanol dari Lampung mencapai sekitar 240.000 hingga 250.000 kiloliter per tahun atau sekitar 10 persen kebutuhan nasional.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Ringkasan Berita:
- Lampung jadi pilot project pengembangan ekosistem bioetanol nasional untuk mendukung program ketahanan energi dan penerapan campuran etanol 10 persen (E10).
- Kebutuhan bioetanol terbesar nantinya berada di Pulau Jawa, disusul Sumatera.
- Target awal produksi bioetanol dari Lampung mencapai sekitar 240.000 hingga 250.000 kiloliter per tahun atau sekitar 10 persen kebutuhan nasional.
Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Lampung jadi pilot project pengembangan ekosistem bioetanol nasional untuk mendukung program ketahanan energi dan penerapan campuran etanol 10 persen (E10) yang ditargetkan mulai berlaku pada 2028.
Baca Juga: Pabrik Bioetanol Bisa Dongkrak Harga Singkong Petani di Lampung
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu saat meninjau lokasi rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung mengatakan, Lampung dipilih sebagai lokasi pengembangan awal karena memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku (feedstock), infrastruktur logistik, hingga letak geografis yang strategis.
"Kenapa kita memilih Provinsi Lampung sebagai pilot awal proyek besar ini, karena Lampung telah memiliki existing feedstock yang dibutuhkan untuk kebutuhan produksi etanol. Kemudian secara geografis, logistik, strategis, Lampung adalah daerah yang sangat strategis," kata Todotua Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, kebutuhan bioetanol terbesar nantinya berada di Pulau Jawa, disusul Sumatera.
Posisi Lampung dinilai ideal karena dapat menjadi pusat pasokan bagi dua wilayah tersebut.
"Kebutuhan etanol ini nanti konsumsi terbesarnya adalah di Pulau Jawa, kemudian terbesar kedua adalah di Pulau Sumatera. Dengan strategi Lampung, setidak-tidaknya kita bisa meng-cover kebutuhan Jawa dan Sumatera," terangnya.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menetapkan penerapan mandatori bioetanol paling lambat pada 2028.
Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan pasokan etanol dalam negeri agar tidak bergantung pada impor.
"Bioetanol ini dibutuhkan karena pemerintah sudah menetapkan paling lambat 2028 masuk kepada mandatori bioetanol. Ini berbicara ketahanan energi. Maka penting bagi pemerintah memastikan suplai kebutuhan etanol nanti. Karena kalau tidak, kita harus impor," katanya.
Untuk tahap awal, pemerintah bersama Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dan mitra investor akan membangun pabrik bioetanol berbasis multifeedstock yang dapat memanfaatkan berbagai bahan baku pertanian.
Pabrik tersebut dirancang menggunakan bahan baku generasi pertama maupun generasi kedua, termasuk pengembangan tanaman sorgum sebagai sumber bahan baku baru.
Todotua mengungkapkan, target awal produksi bioetanol dari Lampung mencapai sekitar 240.000 hingga 250.000 kiloliter per tahun atau sekitar 10 persen kebutuhan nasional.
"Target besarnya kita bisa memenuhi minimal 10 persen daripada kebutuhan S10 nanti. Itu sekitar 240.000 sampai 250.000 kiloliter etanol per tahun," ucapnya.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan empat titik produksi dengan kapasitas masing-masing 60.000 kiloliter per tahun.
| Wamen Investasi Tinjau Lokasi Pabrik Bioetanol hingga Lahan Sorgum di Lampung |
|
|---|
| Pabrik Bioetanol Bisa Dongkrak Harga Singkong Petani di Lampung |
|
|---|
| Menatap Industri Bioetanol, Harapan Warga Tegineneng di Balik Proyek Strategis Nasional |
|
|---|
| Tak Hanya Singkong dan Jagung, Lampung Mulai Siapkan Sorgum untuk Pasok Bioetanol |
|
|---|
| Provinsi Lampung Jajaki Potensi Tanaman Sorgum Dukung Industri Bioetanol |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Lampung-jadi-pilot-projec-bioetanol-nasional.jpg)