Universitas Teknokrat Indonesia
Di Balik Kilau Emas yang Tak Pernah Redup
Emas sebagai komoditas kuno kembali menunjukkan relevansinya di tengah ketidakpastian global yang semakin mengkhawatirkan.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Shiwi Angelica Cindiyasari, S.Ak., M.B.A
(Dosen S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Teknokrat Indonesia)
Emas sebagai komoditas kuno kembali menunjukkan relevansinya di tengah ketidakpastian global yang semakin mengkhawatirkan.
Pada pertengahan April 2026, harga emas batangan Antam berada di kisaran Rp 2.893.000 per gram, naik signifikan sekitar Rp30.000 dibandingkan pada hari sebelumnya.
Angka ini merupakan cerminan dari kegelisahan para pelaku pasar global.
Lonjakan ini bukan hanya disebabkan oleh spekulasi pasar biasa. Harga emas dunia diperdagangkan $4.800 per ons pada pertengahan April 2026 setelah investor mempertimbangkan prospek negosiasi antara AS dan Iran.
Serta kemungkinan kesepakatan damai yang mampu meredakan tekanan inflasi global dan kenaikan suku bunga bank sentral.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, telah membuat pasar energi bergejolak dan mendorong investor berlari menuju aset yang dianggap aman, yaitu emas.
Hal ini menjadi pola berulang dalam sejarah dunia. Setiap kali terdapat ketidakpastian kondisi geopolitik, pasar emas akan bereaksi dengan kenaikan harga yang signifikan.
Dalam situasi tersebut, emas dianggap sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai kekayaan di tengah gejolak pasar dunia.
Di Indonesia, Kenaikan harga emas diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Menurut Data Bloomberg, pada pertengahan April 2026, nilai tukar rupiah terus menyentuh level terendahnya mencapai Rp. 17.146. Dolar yang terus menguat berarti emas lokal otomatis menjadi mahal dalam hal denominasi rupiah.
Hal ini dibuktikan dengan harga emas antam yang pernah menyentuh angka tertinggi yaitu sekitar Rp. 3.1 juta rupiah pada awal bulan Maret 2026 sebelum akhirnya mengalami koreksi kembali pada level saat ini.
Faktanya, pelemahan rupiah ini justru mendorong masyarakat Indonesia yang memiliki dana lebih, berbondong-bondong untuk membeli emas.
Ketika masyarakat berbondong-bondong membeli emas, itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap instrumen keuangan seperti obligasi, saham, bahkan mata uang sedang mengalami penurunan.
Federal Reserve pun akan mengambil sikap hati-hati dalam memutuskan kebijakan moneter, menunggu dan mencermati risiko inflasi sebelum mengambil langkah lebih jauh. Ketidakpastian kebijakan moneter global ini yang menjadi salah satu faktor tambahan atas kenaikan harga emas.
| Universitas Teknokrat Indonesia Jadi Pionir Pengajaran AI di Sekolah |
|
|---|
| Ketahanan Infrastruktur Transportasi Kota sebagai Dampak Banjir di Bandar Lampung |
|
|---|
| Tekno Plasting, Inovasi Universitas Teknokrat Indonesia untuk SDGs dan Lingkungan Berkelanjutan |
|
|---|
| Keren! Dosen Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia Jadi Pengawas Independen PLTA Batutegi |
|
|---|
| Alumni Universitas Teknokrat Indonesia Berkarier di Bank Mandiri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Shiwi-Angelica-Cindiyasari-SAk-MBA5.jpg)