Tribun Bandar Lampung

Menengok Kampung Belajar D'lima yang Dikelola Santri (2): Ada Spot-spot Instagramable

Selain wahana bermain sambil belajar, Kampung Belajar D'lima bisa juga menjadi tempat rekreasi alternatif.

Menengok Kampung Belajar D'lima yang Dikelola Santri (2): Ada Spot-spot Instagramable
Tribun Lampung/Daniel Tri Hardanto
Kampung Belajar D’lima di Jalan Untung Surapati, Gang Tanjung, Kelurahan Labuhan Ratu, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG DANIEL TRI HARDANTO

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Selain wahana bermain sambil belajar, Kampung Belajar D'lima bisa juga menjadi tempat rekreasi alternatif. Orangtua dan anak-anaknya yang menyambangi tempat ini bisa berfoto-foto di beberapa spot yang cukup instagramable.

Untuk menuju lokasi Kampung Belajar D'lima, bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang, karena lokasinya sudah masuk dalam data Google. Lengkap dengan alamat: Jalan Untung Surapati, Gang Tanjung, Kelurahan Labuhan Ratu, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, plus petunjuk arah.

Namun, rambu penunjuk arah menuju lokasi di tengah permukiman padat penduduk tersebut bisa dikatakan sangat minim. Hanya ada sebuah plang terbuat dari kayu yang menunjukkan arah menuju Kampung Belajar D'lima. Itu pun ukurannya relatif kecil, sehingga cukup sulit terlihat.

Begitu masuk ke lokasi Kampung Belajar, mata pengunjung akan disambut pernak-pernik dengan warna mencolok. Bisa dibilang, tempat ini cukup instagramable. Sesi berfoto-foto dijamin akan mengasyikkan.

Dengan kontur yang menurun, pengunjung bisa melakukan tur ke setiap sudut Kampung Belajar dengan menapaki anak tangga yang tersedia. Di sini juga ada sejumlah kolam ikan dengan berbagai ukuran.

Menengok Kampung Belajar Dlima yang Dikelola Santri - Ada Wahana Edukasi Sambil Bermain

Amal Jariyah

Kampung Belajar D'lima berdiri di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Meskipun dikelola oleh santri Pondok Pesantren Miftahul Jannah, lahan ini merupakan milik Marwan dan istrinya, Dyah Etika Widayana Sari.

Lalu, apa alasan mereka memercayakan pengelolaan lahan ini kepada santri Ponpes Miftahul Jannah? Dyah pun memberikan sejumlah alasan mengapa "memberikan" tanah ini tanpa mengharapkan profit alias keuntungan.

"Saya dan suami ingin tanah ini membawa berkah dan berguna. Kami hanya ingin menjadikannya sebagai amal jariyah. Bisa diibaratkan sebagai sedekah berkelanjutan atau sustainable charity," tutur Dyah.

Awalnya, kata pegawai Bank Indonesia Lampung ini, tempat tersebut adalah kolam pemancingan komersial. Namun, dengan berbagai pertimbangan, ia dan suami memutuskan untuk menutupnya.

Sebagai gantinya, Dyah memasrahkan lahan tersebut untuk dikelola oleh santri Ponpes Miftahul Jannah. Bahkan, perempuan berhijab asal Magelang, Jawa Tengah, ini membebaskan Syahri dan para santri binaannya untuk berkreasi hingga menyulap lahan itu menjadi sebuah wahana hiburan sekaligus edukasi.

"Ya, kami berikan kebebasan sama Abi Syahri dan anak-anak santri. Yang penting, tempat ini bisa jadi berkah dan berguna bagi orang lain," terus pendiri Komunitas Sahabat Sedekah ini.

Alasan terakhir, Dyah dan suaminya berharap Kampung Belajar D'lima bisa menjadi bekal kelak bagi santri-santri yang saat ini duduk di bangku SMA.

Penulis: Daniel Tri Hardanto
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved