Tribun Bandar Lampung

BREAKING NEWS - Uang Rp 400 Juta yang Nyaris Diberikan Saat OTT, Berasal dari Uang Muka 10 Proyek

Uang Rp 400 juta yang hampir diserahkan pada malam OTT, ternyata dari dana pencairan uang muka pengerjaan 10 proyek di Lampunng Selatan

BREAKING NEWS - Uang Rp 400 Juta yang Nyaris Diberikan Saat OTT, Berasal dari Uang Muka 10 Proyek
TribunLampung/Hanif Mustafa
Sidang lanjutan kasus Agus BN di Pengadilan Tipikor Tanjung Karang, 10 Januari 2019 
Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Uang Rp 400 juta yang hampir diserahkan pada malam operasi tangkap tangan (OTT), ternyata dari dana pencairan uang muka pengerjaan 10 proyek di Lampung Selatan.
Dalam kesaksian persidangan Agus BN dan Anjar Asmara, Bakhjar Rudialbab alias Ulil, staf administrasi 9 Naga Group menuturkan bahwa ia diperitahkan oleh Gilang Ramadhan selaku Bos 9 Naga untuk menyiapkan Rp 400 juta dari pencairan uang muka proyek PUPR Lampung Selatan.
"Ada perintah untuk menyiapkan uang untuk dibungkus?" tanya Syamsudin, Majelis Hakim Anggota Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis 10 Januari 2018.
"Ada setelah pencairan DP, sekitar bulan Juli. Jumlahnya Rp 400 juta, saya bungkus plastik hitam dan saya taruh meja depan di Kantor Pahoman atas perintah Gilang, kemudian saya shalat dan tinggal," ungkap Ulil.
Syamsudin pun mempertanyakan untuk apa uang tersebut.
"Saya gak tahu, hanya pesan saya butuh dan untuk keperluan pribadi pak gilang," jawab Ulil.
"Jadi berapa lama uang itu ada di atas meja," tanya ulang Syamsudin.
"Saya gak paham, tapi memang sudah disiapkan dan di kantor ada Farhan dan Gilang, saya abis shalat dan makan itu (uang) sudah tidak ada," paparnya.
Hakim ketua, Mansyur Bustami pun menyela.
"Pencairan uang itu kapan dan berapa?" tanya Masyur.
"Itu setelah pencarian uang muka perusahaan yang menang, dua kali Rp 390 juta dan Rp 1,4 miliar, itu uang muka," jawab Ulil.
"Uang itu kamu yang mencairkan?" Tanya lagi Masyur.
"Tidak, saya dari Nusantara, saya hanya administrasi Nusantara yang dari PU," papar Ulil.
Mansyur pun mengkonfirmasi kepada Nusantara, Kepala Lapangan 9 Naga Group yang memang menjadi saksi dalam persidangan ini.
"Jadi saudara saksi Nusantara pengurusan uang muka bagaimana?" tanya Mansyur.
"Pencairan dilakukan di Dinas PU langsung ke Munzir (saksi), setelah itu saya serahkan ke Ulil," jawab Tara.
Samsudin pun merasa tak puas atas jawaban tersebut dan mulai mencecar Nusantara.
"Bagaiamana pencairan uang muka?" Tanya Syamsudin.
"Kalau pencairan di kantor dinas, saya yang urus ke Munzier (saksi), itu total ada 10 perusahaan. Pertama 3 dan kedua 7," jawab Tara.
"Jadi begitu cair saya ngomong, Lil itu giro sudah dicairkan ke rekening perusahaan segera diurus," imbuh Tara.
Selanjutnya, Hakim Ketua Masyur bersuara menanyakan ke Saksi Munzir, ASN Staf Keuangan di Bidang Bina Marga PUPR Lampung Selatan.
"Ya saya yang memproses pengajuan uang sampai selesai, jadi rekanan datang dengan persyaratan lengkap, kemudian saya lapor PPTK bahwa orang ini pencairan uang muka," jawabnya.
"Apakah anda menerima uang?" tanya Mansyur.
"Rp 11,5 juta pak dari Tara," sebut Munzier.
"Kapan? Dan untuk apa?" Tanya Mansyur.
"Saya lupa, itu untuk minta tolong atas dasar minta dibantu, dan dibagi ke kawan-kawan, sudah saya kembalikan Rp 6,5 juta, karena sisanya kan sudah dibagikan," terangnya.
Mansyur pun kembali menanyakan ke Nusantara, dari mana sumber uang tersebut.
"Arahan Gilang, ngomong untuk minta ke Ulil buat uang akomodasi dan saya berikan ke Munzier," jawabnya.
Mansyur pun beralih ke Ulil. "Ngasih uang ke Munzier dari pencairan dana?" tanya ulang.
"Tidak, hanya Nusantata minta saya uang untuk operasional saya beri Rp 11,5 juta," jawabnya.
Rp 400 Juta diambil Sopir
Hakim Ketua pun melanjutkan pertanyaan kepada Eka Aprianto, Sopir Syahroni.
"Kamu pernah disuruh mengambil uang atau bungkusan?" Tanya Mansyur.
"Ya saya diminta ambil bungkusan di kantor Gilang, tapi yang ditemui Farhan," jawabnya.
"Di sana saya mendapat bungkusan plastik warna hitam dan saya kembali lagi Gelael, sendirian bawa kantong plastik, sampai Gelael pak Syahoni telpon dan minta jemput. Lalu saya ngomong itu ada ttitipan dari pak Farhan," bebernya.
"Tahu isinya?" Tanya Masyur.
"Tidak tahu, saya gak berani pegang atau melihat," jawab Eka.
Eka pun mengaku jika bungkusan itu di tempatkan di jok belakang mobil, dan bersama Syahroni menuju Summit Bistro, Sukadana, Kemiling, Bandar Lampung.
"Di Bistro bungkusan masih di mobil, kemudian pak Syahroni minta di antar ke Hotel Andalas. Saya disuruh ambil baju sepatu dan antar bungkusan itu," bebernya.
"Saya telpon pak Rahmad (sopir kedua) kemudian saya ketemuna di depan Giant Kemiling, saya ambil sepatu, baju, dan bungkusan itu, saya pindahkan ke mobil pak Rahmad, setelah itu saya pulang atas perintah pak Syahroni," imbuhnya.
Kemudian hal ini di komparasi dengan Rahmad Hidayat, Sopir kedua Syahroni.
"Betul waktu itu saya di rumah ditelpon untuk mengambil titipan Eka. Saya ditelpon pak Syahroni, jika disuruh ambil baju, sepatu di rumah dan nanti ambil titipan dari eka," katanya.
Rahmad pun mengaku bertemu dengan Eka di Giant Kemiling, dan mengambil bungkusan yang dimaksud.
"Trus ditelpon pak syahroni suruh bawa bungkusan itu, nanti ketemu lagi karena bungkusan itu mau dikasih pak kadis. Pak Syahroni ngomong 'kamu jangan pulang dulu, malam ini ketemu pak kadis," ungkap Rahmad menirukan ucapan Syahroni.
Rahmad pun mengaku tahu bahwa bungkusan itu adalah uang, karena ia penasaran dan ingin mengintip di dalam.
"Lalu saya nunggu, akhirnya gak ada kabar jam setengah sepuluhan saya pulang dikontrakan, saya bawa mobil pak syahroni," tuturnya.
Rahmad pun mengaku selama tiga hari uang tersebut tidak diambil-ambil.
"Sampai akhirnya saya diminta temuin pak Syahroni, katanya ada surat panggilan KPK RI dan membawa uang itu ke Jakarta, ada Rp 400 juta," paparnya.
Sementara itu, JPU KPK RI Ali Fikri mengatakan, uang Rp 400 Juta itu rencananya untuk diserahkan ke Anjar Asmara, Kadis PUPR Lampung Selatan dan kemudian diteruskan ke Agus BN.
"Ya malam OTT itu, dan diserahkan ke ABN tapi karena Syahroni sulit dihubungi jadi pakai uang talangan Rp 200 juta yang di OTT saat malam perti," tandasnya. 
(*)
Penulis: hanif mustafa
Editor: Teguh Prasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved