Media Sosial Faktor Pemicu Kebanyakan Kasus Perceraian
Dalam beberapa kasus, media sosial adalah elemen pengisap waktu karena menimbulkan rasa ketagihan bagi penggunanya.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Menurut sebuah penelitian tentang kasus perceraian yang dilakukan oleh Universitas Maryland baru-baru ini, kita hanya memiliki kesempatan sebesar 50:50 untuk menua bersama pasangan.
Banyak pasangan memilih bercerai setelah melalui kebersamaan yang tidak sebentar.
Jessica Elizabeth Opert, pakar hubungan di London mengatakan, “Orang beranggapan kebanyakan pernikahan gagal karena kecurangan besar, perselingkuhan, kesalahan manajemen keuangan, kecanduan, ketidakjujuran. Tapi sebenarnya, penyebabnya adalah tindakan kita sehari-hari yang mengakibatkan hilangnya rasa cinta."
Berikut ini tujuh hal tak terduga dan kadang disepelekan yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga kita dilansir dari boldsky.com.
1. Kurang Kontak Mata
Bagaimana kita tahu pasangan mencintai kita? Banyak orang menjawab, terlihat dari cara pasangan memandang atau menatap. Kita tidak sadar sering melakukan percakapan tanpa melihat dari mata ke mata yang bisa memutus keintiman.
“Bahkan mungkin mengurangi pelepasan phenylethylamine, zat kimia yang memicu perasaan cinta romantis,” kata Opert.
Tipsnya, sisihkan waktu berdua tanpa intervensi teknologi. Makan malam tanpa latar belakang suara teve atau gadget patut dicoba!
2. Menghindari Konflik
Menghindari konflik, terutama di awal perkawinan, membuat pasangan kurang memiliki keterampilan untuk mengatasi situasi sulit.
"Kuncinya adalah mengembangkan keterampilan komunikasi dan negosiasi untuk memecahkan masalah tanpa menimbulkan kebencian," kata Valerie Golden, PhD, seorang psikolog yang berbasis di Minneapolis.
Solusinya, cobalah menggunakan kalimat yang positif saat berkonflik. Daripada mengatakan, “Kamu enggak pernah mendengarkan saya untuk tidak meninggalkan piring sembarangan”, lebih baik “Saya merasa diabaikan ketika kamu tidak mendengar permintaan saya.”
3.Turunnya Gairah dan Keintiman
Coba perhatikan komunikasi kita dengan pasangan, apakah terjadi hanya soal pembicaraan praktis saja atau ada pembicaraan yang lebih detail lainnya?
"Ketika komunikasi hampir secara eksklusif berkisar pada anak-anak atau rumah, itu pertanda buruk," kata Sarah Allen, PsyD, psikolog Northbrook, Illinois.
Bertanyalah kepada suami tentang harinya. “Mungkin terdengar klise, tapi setelah percakapan ini benar-benar dapat memperbaiki hubungan kita. Diskusikanlah kejadian-kejadian positif,” kata Angela Hicks, PhD.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-perceraian_20170410_114131.jpg)