Pemkab Undang Suku Baduy Bangun Rumah Adat di Tubaba

Kang Yadi dan enam rekannya tengah asyik merangkai anyaman bambu yang dipotong tipis untuk membuat dinding rumah suku baduy

Pemkab Undang Suku Baduy  Bangun Rumah Adat di Tubaba

Istilah tersebut bermakna panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.

"Artinya, semua yang datang dari alam oleh orang baduy dirawat tanpa melukai. Misalnya, jika mereka membangun rumah atau berladang atau mengolah tanah, mereka akan membiarkan kontur tanah apa adanya. Tidak ada yang mereka rusak," kata Umar.

"Orang baduy itu cara berladang mereka sederhana. Tidak melukai tanah dengan bajak. Hanya menanam dengan tunggal, yaitu sepotong bambu yang diruncing yang dijadikan alat untuk menanam benih," papar Umar.

Tak hanya berladang. Orang baduy dalam membangun rumah juga pantang untuk merusak alam.

Kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya. Sehingga tiang penyangga kerap tidak sama.

Kearifan lainnya dari suku baduy yang patut diadopsi, kata Umar, adalah material rumah yang dipergunakan.

Dalam membangun rumah material yang mereka gunakan adalah batu kali, kayu, ijuk dan alang-alang.

Bangunan rumah akan disangga dengan tumpukan batu. Orang baduy biasanya memilih batu kali yang besar dan datar.

"Luar biasa memang kebaikan baduy kepada alam. Kearifan lokal yang arkaik. Karena itulah kami ingin menghormatinya sebagai penghargaan kepada baduy. Ada sejarah yang sambung menyambung antara banten dan lampung," kata Umar.

Karenanya, untuk menanamkan nilai kerifan yang dipegang teguh suku baduy itu, Bupati Umar Ahmad membangun rumah baduy di lahan eks transmigrasi.

Halaman
1234
Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved