Tribun Pringsewu

Standar STBM, 1 Toilet Idealnya Digunakan untuk 25 Anak Perempuan

Anak perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan toilet. Pertimbangan itulah yang menjadikan jumlah standar penggunaan toilet

Tayang:
Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono | Editor: soni
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Lampung R Didik Budiawan 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Anak perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan toilet. Pertimbangan itulah yang menjadikan jumlah standar penggunaan toilet berdasar jenis kelamin.

Kepala Seksi Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pringsewu Subur mengatakan, satu pintu toilet itu ideal digunakan untuk 25 anak perempuan. Sedangkan untuk anak laki-laki satu toilet ideal untuk 40 anak.

Masuk Nominasi PPD 2019, Pringsewu Andalkan Program Sanitasi

"Perbandingan itu karena perempuan lebih banyak waktu dalam WC, tidak seperti laki-laki yang lebih singkat, cepat dan segala macam, kalau perempuan kan lebih lama dan lebih ribet," ujar Subur yang juga menangani Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) ini, Minggu (3/3).

Atas pertimbangan tersebut, lanjut Subur, dari 252 sekolah dasar (SD) di Pringsewu, baru 60-an SD yang memenuhi standar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

Sedangkan secara prosentase, jumlah SD yang sanitasinya memadai hanya berkisar 30 sampai 40 persen. Sisanya, kata Subur, mendekati, dan masih di bawah standar ideal.

Sebab, lanjut dia, terkadang SD dengan siswa 120 anak itu WC hanya dua pintu. Dia menambahkan, bila dilihat dari keberadaan WC, semua sekolah di Pringsewu memilikinya, namun jumlahnya belum memenuhi standar.

STBM Sosialisasi Sanitasi Sehat Melalui Pagelaran Reog Ponorogo

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih Febrilia Ekawati mengungkapkan, sanitasi sekolah merupakan salah satu elemen penting dalam upaya meningkatkan elemen pendidikkan.

Febri yang menjadi mitra Pemkab Pringsewu dalam menangani STBM ini menambahkan, bila peningkatan kesehatan dan kenyamanan siswa di sekolah diyakini secara tidak langsung dapat berkontribusi pada peningkatan angka partisipasi sekolah.

Febri menambahkan, salah satu komponen terpenting dari sanitasi sekolah adalah isu Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM). Namun, hal tersebut masih dianggap tabu untuk dibicarakan, dan dianggap hal yang tidak penting.

Ia mengungkapkan, Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tahun 2016 menyebutkan hanya 65 persen SD di Indonesia yang memiliki jamban yang terpisah.

Adapun rata-rata rasio nasional adalah satu jamban per 90 siswa atau siswi. Febri mengungkapkan, UNICEF menemukan fakta bahwa 1 dari 6 anak perempuan tidak masuk sekolah saat sedang menstruasi.

"Tiga penyebab utamanya adalah rendahnya sarana sanitasi yang layak di sekolah; minimnya akses informasi mengenai cara mengelola kebersihan menstruasi secara baik dan benar; dan terbatasnya pengetahuan guru tentang MKM," tuturnya.

Febri memgungkapkan, Sanitasi Sekolah dan MKM di Indonesia merupakan bagian dari program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang dikelola bersama oleh Kemendikbud, Kemenkes, dan Kemenag.

Kebijakan dan penyelenggaraan sanitasi sekolah dan MKM sejalan dengan kebijakan program lingkungan sehat, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1429/Menkes/SK/XII/2006 tentang pedoman penyelenggaraan kesehatan lingkungan di sekolah.

Serta kebijakan nasional tentang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) berbasis masyarakat dan Permenkes Nonor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). (dik)

Tags
Pringsewu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved