Dewan Kopi dan Aeki Bahas Impor Kopi dengan Pemprov Lampung

Bersama Asosiasi Eksportir Indonesia (Aeki), Dekopi membahas impor kopi di Pemprov Lampung, Jumat (26/7/2019).

Dewan Kopi dan Aeki Bahas Impor Kopi dengan Pemprov Lampung
Istimewa
Dekopi bersama Aeki membahas impor kopi di Pemprov Lampung, Jumat (26/7/2019). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Impor kopi ke Lampung turut mendapat perhatian dari Dewan Kopi (Dekopi) pusat.

Bersama Asosiasi Eksportir Indonesia (Aeki), Dekopi membahas impor kopi di Pemprov Lampung, Jumat (26/7/2019).

Pertemuan ini dihadiri Wakil Ketua Umum Dekopi Mahatma Gandi, Ketua Dekopi Lampung Mukhlis Basri, dan Ketua Aeki Lampung Juprius. Hadir pula Asisten II Pemprov Lampung Taufik Hidayat.

"Tadi kami membahas impor kopi karena akan ada audiensi dengan Pak Gubernur membahas peningkatan mutu kopi Lampung. Lalu akan ada event kopi juga. Dari Dewan Kopi, mereka fokus ke produksi dan peningkatan mutu. Kalau kami dari Aeki, paling penting bagaimana kita segera mengecek kopi yang masuk (impor) kemarin itu. Kita mau lihat fisik kopinya seperti apa, bentuk kopinya (kopi impor asal Vietnam)," kata Juprius.

Menurut dia, mereka masih mengkaji dari sisi hukum impor kopi ini.

"Akan dilihat kasus hukumnya impor kopi itu seperti apa. Perusahaan importir itu kita belum dapat dari Pelindo, belum dikasih karena manajernya masih di Jakarta. Kami juga tidak bisa sebelum datanya lengkap," ujarnya.

Menurut dia, masuknya kopi impor asal Vietnam merugikan petani.

Ada Mafia di Balik Lampung Impor Ribuan Ton Kopi? Ternyata Begini Modusnya

Dewan Kopi Kaget, Impor Kopi di Lampung Tahun 2019 Sudah Mencapai 8 Ribu Ton

Di tengah produksi kopi Lampung yang turun, harga juga ikut turun karena dibanjiri kopi impor.

"Harga kopi Vietnam ya sekitar Rp 16 ribu atau Rp 17 ribu per kilogram. Kita tidak tahu mainannya seperti apa. Tetapi, jelas kalau panen sedikit, harga naik. Ini panen berkurang harga ikut turun karena dibanjiri kopi impor itu. Otomatis merugikan petani kopi," pungkasnya.

Ketua Dekopi Lampung Mukhlis Basri mengatakan, pertemuan ini membahas program Petani Berjaya.

Salah satunya, petani kopi Lampung harus merasakan dampak positifnya.

"Pemprov kan perlu masukan-masukan. Intinya kita tadi, pertama, bagaimana menyatukan mendukung program Pak Gubernur dalam bidang Petani Berjaya. Salah satunya kan petani kopi. Nah pendapat saya tadi itu, intinya kita ingin meningkatkan produksi, kualitas kopi bagaimana petani itu mendapatkan fasilitas seperti pupuk bersubsidi," ujarnya.

Tak kalah penting, kata mantan bupati Lampung Barat ini, pertemuan ini menyikapi impor kopi ke Lampung.

"Setelah itu menyikapi masuknya barang impor itu. Artinya pemerintah juga, Aeki, Dewan Kopi, dan lainnya bagaiamana duduk satu meja dulu, persoalannya apa, kenapa mereka mengimpor. Tetapi kita harus punya data dulu, dan kita belum pegang data fix (impor kopi dan perusahaan pengimpor kopi asal Vietnam). Segera nanti ada pertemuan kembali  dengan Pak Gubernur dan pelaku eksportir dan importir kopi ini. Termasuk mungkin nanti dengan Kadin, HKTI, semua," pungkasnya. (Tribunlampung.co.id/Beni Yulianto)

Penulis: Beni Yulianto
Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved