Kisah Gus Dur yang Bertengkar dengan Megawati, Ujungnya Minta Nasi Goreng
Megawati menyampaikan bahwa saat "berantem", ia enggan bertemu dengan Gus Dur.
Penulis: taryono | Editor: taryono
Selama memimpin NU, Gus Dur menghadirkan ajaran Islam yang moderat dan mendukung Pancasila.
Pemikiran itu tentu disukai pemerintahan Presiden Soeharto, apalagi saat itu muncul gerakan penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal.
Namun di sisi lain, Gus Dur juga kerap menyuarakan demokrasi dan melakukan kritik terhadap Soeharto.
Kritik terhadap Soeharto itu yang membuat Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang ikut andil dalam gerakan reformasi pada 1998.
Setelah Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998, Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang mengawal transisi dari Orde Baru ke era reformasi, bersama tokoh lain seperti Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri.
Di era reformasi, Gus Dur kemudian membentuk Partai Kebangkitan Bangsa yang kelak mengantarnya terpilih menjadi presiden pada 1999.
Terpilihnya Gus Dur juga tidak lepas dari peran Amien Rais yang membentuk Poros Tengah.
Pada pemilihan di Sidang Umum MPR, Gus Dur menjadi presiden dengan mengalahkan Megawati Soekarnoputri.
Selama menjadi presiden, Gus Dur berusaha menjaga stabilitas keamanan di Indonesia pasca-jatuhnya Orde Baru.
Saat itu, sejumlah konflik horizontal terjadi, antara lain di Maluku dan Sampit.
Gus Dur juga melakukan sejumlah perubahan kultural di Indonesia, salah satunya dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.
Namun, langkah politik Gus Dur sebagai presiden dinilai kontroversial.
Dia diketahui melakukan sejumlah pergantian menteri secara mendadak dan oleh sebagian kalangan dianggap tanpa alasan jelas.
Hubungan dengan legislatif pun dinilai tidak baik, terutama saat Gus Dur menyebut anggota DPR seperti anak TK.
Kondisi pemerintahan Gus Dur semakin memburuk, terutama setelah munculnya skandal Buloggate dan Bruneigate.