Tribun Bandar Lampung

Waspada Potensi Hujan Disertai Petir di Wilayah Bandar Lampung hingga Lambar

Kondisi hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprakirakan akan terjadi pada sore hari.

Intisarionline
ilustrasi petir - Waspada Potensi Hujan Disertai Petir di Wilayah Bandar Lampung hingga Lambar 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi terjadinya hujan disertai petir atau kilat dan angin kencang di wilayah Bandar Lampung hingga Lampung Barat.

Kasi Data dan Informasi BMKG Lampung Rudy Haryanto mengatakan, kondisi hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprakirakan akan terjadi pada sore hari.

"Di luar Bandar Lampung dan Lampung Barat, yang juga berpotensi serupa yakni di Lampung Selatan, Tanggamus, Pesibar, Lamteng, Lampung Timur, Tuba, Mesuji, Pesawaran, dan Pringsewu," bebernya kepada Tribunlampung.co.id, Rabu (27/5/2020) pagi.

Penyebab hujan disertai petir dan angin kencang ini, papar dia, karena gangguan cuaca akibat sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudera Hindia barat Sumatera.

Masa Pancaroba, Lampung Berpotensi Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang, BMKG Imbau Waspada

Hujan Deras Disertai Angin Kencang Nyaris Robohkan Posko Lebaran di Mesuji

Pria Tanpa Identitas Tewas Diduga Tertabrak Kereta Api di Kotabumi

2 Tenaga Kesehatan di Pesawaran Positif Covid-19

"Membentuk daerah konvergensi yang memanjang di pesisir barat Aceh hingga Sumatera Utara," jelas Rudy.

Jika melihat musim secara umum di wilayah Provinsi Lampung sampai akhir Mei mendatang diakuinya masih masuk pancaroba.

"Di awal Juni nanti kita prakiraan masuk musim kemarau," tambahnya.

Mengenai kondisi hujan lebat dan angin kencang yang biasanya disertai dampak banjir, Rudy mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah yang berhubungan dengan laut atau tinggal di daerah pesisir pantai agar waspada.

"Karena tinggi gelombang dalam dua hari ke depan di wilayah Samudera Hindia barat Lampung ini mencapai ketinggian 4 meter," terangnya.

Lalu di teluk Lampung ataupun Selat Sunda bagian Selatan sekitar 1,5 meter.

"Mengenai terjadinya rob kemarin itu memang siklus tahunan yang biasanya terjadi dua kali dalam satu bulan. Pada fase purnama dan awal bulan," kata dia.

Namun rob yang terjadi di daerah Pulau Pasaran dan Kalianda dua hari lalu diakuinya karena didukung juga oleh gelombang tinggi yang ada di Samudera Hindia barat Lampung.

"Sehingga selain naiknya permukaan air laut, didorong juga adanya tinggi gelombang," tambahnya.

Untuk masyarakat yang tinggal di bagian barat diimbaunya agar berhati-hati terhadap kemungkinan longsor dan banjir. Lalu di bagian utara dan timur agar waspada angin kencang dan puting beliung.(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia M)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved