Tribun Metro
Cerita di Balik Usaha Peyek Mbak Emi di Metro
Berawal dari coba-coba untuk membantu ekonomi keluarga, produksi peyek Mbak Emi kini mencapai 10 kilogram per hari.
Penulis: Indra Simanjuntak | Editor: Daniel Tri Hardanto
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Indra Simanjuntak
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Berawal dari coba-coba untuk membantu ekonomi keluarga, produksi peyek Mbak Emi kini mencapai 10 kilogram per hari.
Sejak 2012 silam, perempuan 42 tahun ini mengolah produksi rumahan berupa keripik.
Namun, karena bahan baku yang didapat susah, akhirnya ia memutuskan mencoba peruntungan pada peyek.
"Awalnya keripik sukun sama pisang. Itu sempat ramai. Tapi sukun itu kan susah carinya. Akhirnya buat peyek saja, karena bahannya lebih mudah didapat. Saya kerja sendiri, cuma dibantu anak atau suami kalau lagi gak kerja," tuturnya, Minggu (1/11/2020).
Saat ini, pemilik nama lengkap Emi Sundaryanti tersebut mampu memproduksi 20-35 bungkus peyek ukuran 0,5 kilogram per hari.
"Kalau normalnya 10 kilo atau 20 bungkus. Cuma kalau lagi ramai bisa sampai 35 bungkus. Biasanya kalau mau lebaran itu pesanan banyak," imbuhnya.
Baca juga: Terdampak Pandemi, Penjualan Keripik Pisang Melte Vanana Merosot hingga 50 Persen
Baca juga: Manfaatkan Medsos untuk Penjualan, Keripik Pisang 3 Putra, Sidomulyo Bertahan di Tengah Pandemi
Adapun modal yang dikeluarkan mencapai Rp 600 hingga Rp 700 ribu dan memakan waktu sekitar 9 jam, mulai dari proses pengadonan, pembuatan, hingga pengemasan untuk menghasilkan 10 kilogram peyek.
"Modal itu untuk beli bahan. Karena kita kan harian. Ya mulai dari kacang yang bagus, terus tepung, rebon, garam, minyak, dan lainnya. Setengah harilah kerjanya. Karena kita empat jenis. Itu peyek kacang, ikan asin, rebon, dan kedelai," terangnya.
Emi mengaku, dengan produksi 10 kilogram mendapat untung Rp 150 ribu.
Hingga saat ini, kendala yang didapat adalah modal dan pemasaran.
Karena penjualan masih dilakukan secara konvensional.
"Itu paling. Kita jual cuma dari yang kenal-kenal saja atau orang mesan. Itu dari PNS Pemkot itu banyak yang beli, orang BRI juga. Mau sih nitip, cuma kita kan enggak kuat modal. Karena produksi kan harian. Jadi kalau bayarnya lama, modal buat lagi enggak ada," ungkapnya.
Namun demikian, ia berharap suatu saat bisa produksi peyek dalam skala besar serta bisa dijual atau titip ke toko-toko, minimarket, hingga supermarket.
"Cita-citanya begitu. Cuma saat ini, mampunya masih segini," tandasnya.
Adapun peyek Mbak Emi bisa didapatkan di Jalan Stadion Tejoagung atau melalui pesanan ke nomor 085382950880. (Tribunlampung.co.id/Indra Simanjuntak)