Tulangbawang

Nelayan di Tulangbawang Memilih Tak Melaut karena Sulit Dapatkan BBM Jenis Solar

Nelayan di Menggala mengeluhkan sulitnya mendapat BBM untuk bahan bakar perahu mereka. Nelayan memiliki tidak melaut

Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Dedi Sutomo
Tribunlampung.co.id / Endra Zulkarnaen
Sulit mendapatkan BBM jenis solar, nelayan di Kabupaten Tulangbawang memiliki untuk tidak melaut. 

Tribunlampung.co.id, Tulangbawang - Persoalan ketersediaan BBM jenis solar maupun pertalite masih saja dikeluhkan nelayan di Kabupaten Tulangbawang.

Terbaru, nelayan di Menggala mengeluhkan sulitnya mendapat BBM untuk bahan bakar perahu mereka.

Dampak dari sulit ini, para nelayan di Menggala memilih menghentikan sementara aktivitas mencari ikan di sungai Tulangbawang.

Pantauan Tribunlampung.co.id, Rabu (13/04/2022), perahu nelayan banyak yang bersandar di dermaga tangga raja Menggala.

Kondisi ini membuat pendapatan mereka menurun drastis, lantaran aktivitas mencari ikan di sungai menjadi tersendat.

Baca juga: 15 Ribu Pedagang dan Nelayan di Way Kanan Terima Bantuan Uang Rp 600 Ribu

Baca juga: Anak yang Jadi Korban Petasan Kaleng di Pringsewu Sempat Pingsan dan Drop Akibat Luka Bakar

Irawan (30), salah satu nelayan di Menggala, menuturkan, persoalan sulitnya mendapat BBM ini kembali muncul lantaran adanya aturan baru terkait larangan membeli BBM menggunakan jerigen.

"Sekarang ini beli bahan bakar jenis solar dan fertalite tidak boleh menggunakan drigen. Aturan ini berlaku sejak awal april lalu. Jadi kami nggak bisa dapat BBM di SPBU," ungkap Irawan.

Dengan adanya aturan baru tersebut, berdampak pada kurangnya pendapatan para nelayan.

Untuk mensiasati agar bisa mendapat BBM, Irawan terpaksa membeli BBM jenis fertalite di kios-kios yang harganya lebih mahal dari harga yang ada di SPBU.

"Kita beli pertalite di SPBU tidak bisa lagi pakai jerigen atau botol. Mau tidak mau kami beli di kios biasa, walau harganya sedikit mahal dari harga di SPBU," tuturnya.

Kata dia, sebelum terjadinya kelangkaan BBM serta adanya surat edaran dari pemerintah saat ini, ia masih bisa membeli minyak jenis pertalite sebanyak 20 liter perhari sebagai bahan bakar perahu yang ia miliki.

"Biasanya saya sekali beli 20 liter untuk setok diperjalanan mencari ikan. Tetapi kini berkurang, saya hanya bisa membeli 10 liter perhari. Akibat keterbatasan itu, membuat penghasilan saya berkurang drastis," tuturnya. 

Baca juga: Nelayan di Tulangbawang Terpaksa Tak Melaut karena Sulit Mendapatkan BBM Jenis Solar

Baca juga: Korupsi di Lampung Utara, Akbar Tandaniria Pasrah Divonis 4 Tahun Penjara

Ia juga berharap pemerintah daerah dan pusat dapat segera mencari solusi atau kebijakan untuk para nelayan terkait kelangkaan BBM jenis solar dan fertalite. 

Karena tanpa adanya bahan bakar tersebut para nelayan tidak dapat berlayar dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. (Tribunlampung.co.id / Endra Zulkarnaen)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved