Lampung Selatan

Minyak Goreng di Lampung Selatan Masih Laris, Meski Pembeli Ngeluh Mahal

Pedagang nasi uduk dan gorengan di Lampung Selatan mengeluh harga minyak goreng tak kunjung turun. Demikian penjual mengaku masih laris meski mahal.

Tribun Lampung/ Dominius Desmantri Barus
Pedagang gorengan di Lampung Selatan mengeluhkan harga minyak goreng yang tak kunjung turun. Sebaliknya pejual minyak goreng menyebut masih laris meski harganya mahal. 

Tribunlampung.co.id, Lampung SelatanPedagang nasi uduk dan gorengan di Kalianda, Lampung Selatan mengeluhkan harga minyak goreng yang masih mahal.

Seorang pedagang nasi uduk dan gorengan di Lampung Selatan tersebut, Har mengaku pasrah dengan harga minyak goreng yang tak kunjung turun.

Padahal dalam satu hari penjual nasi uduk dan gorengannya di Lampung Selatan menghabiskan hingga satu dus minyak goreng.

"Kalau saya pasrah aja mas. Namanya juga saya butuh. Jadi seberapa aja harganya ya coba saya sanggupi. Saya bisa menghabiskan minyak goreng 1 dus dalam sehari. Karena kan saya mulai jualan dari subuh.

Jam 3 pagi sampai sekitar jam 4 atau 5 sore baru pulang. Kalau dulu harga minyak goreng sedusnya Rp 120-130 ribu. Kalau sekarang bisa sampe Rp 200 ribuan perdusnya," kata Har, Kamis (23/6/2022).

Baca juga: Peduli Literasi Warga Lampung Selatan, Aipda Agung Bikin Pojok Baca Sejak 2017

Baca juga: Jerry Sambuaga Ungkap Sebab, Minyak Goreng di Lampung Dijual di Atas HET

Har mengaku bingung jika harga minyak goreng tak kunjung turun, karena ia tidak bisa mengurangi ukuran gorengannya, ataupun menaikan harga gorengannya

"Harga minyak naik. Bahan-bahan kebutuhan lainnya juga ikut naik. Sedangkan saya tidak bisa menaikan harga dagangan, resikonya pembeli protes dan nggak mau beli," katanya

"Mau ngurangin ukuran juga takut diprotes pembeli. Ya saya mah pasrah ajalah, sampai harganya kembali normal," ujarnya.

Pedagang sembako di Pasar Kalianda Wiwik mengatakan, harga minyak goreng dengan harga eceran tertinggi (HET) sudah lama dihapuskan oleh pemerintah.

Minyak goreng yang beredar di pasaran adalah minyak goreng dengan harga perusahaaan.

"Kalau minyak goreng HET itu kan ada ketentuannya. Harga minyak goreng HET itu bersyarat dong. 1 lembar FC KTP hanya bisa beli 2 liter, harga Rp 14 ribu perliter.

Bagaiamana pedagang gorengan, pelaku usaha yang menggunakan minyak sebagai bahan baku utamanya memenuhi kebutuhannya," terangnya.

Wiwik mengatakan tidak ada penurunan konsumen walau harga minyak goreng mahal.

"Karena minyak goreng ini termasuk kebutuhan pokok ya. Jadi tetep laku loh. Apalagi saat langka-langkanya kemarin. Orang nggak masalah mahalnya, yang penting barangnya ada," ujarnya.

Minyak goreng curah harga Rp 15-16 ribu per liter.

Minyak goreng yang dijual Wiwik untuk merek Domus, MM 1 liternya Rp 20 ribu.

Minyak goreng untuk kemasan 2 liter merek Domus Sinar laut Rp 40-45 ribu/liter, untuk merek-merek nasional seprti Bimoli Sunco masih Rp 50 ribu/liter

(Tribunlampung.co.id/ Dominius Desmantri Barus)

Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved