Lampung Bangkit
Hantoni Hasan Soroti Persoalan Anak Jalanan di Balam, Tidak Melulu dari Perspektif Penertiban Saja
Namun lebih dari itu, menurut Hantoni Hasan, penanganan persoalan anak jalan harus juga ditangani dari perspektif lain.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Bakal Calon Gubernur Lampung Hantoni Hasan menyoroti fenomena menjamurnya anak jalanan di setiap sudut Kota Bandar Lampung akhir-akhir ini.
Hantoni Hasan menilai, penanganan persoalan anak jalanan yang menjamur di Kota Bandar Lampung ini tidak melulu dilihat dari perspektif penertiban saja.
Namun lebih dari itu, menurut Hantoni Hasan, penanganan persoalan anak jalan harus juga ditangani dari perspektif lain.
Mulai dari perspektif pendidikan, layanan psikologi, pengentasan kemiskinan, dan lain sebagainya.
“Dan tak kalah penting, memberikan ruang ekspresi untuk anak-anak jalanan juga harus dilakukan. Ini penting untuk mengarahkan mereka ke arah lebih baik,” ungkap Hantoni Hasan kepada Tribunlampung.co.id, Kamis (8/12/2022).
Dalam konteks ini, anak jalanan yang dimaksud tidak hanya sebatas gelandang dan pengemis yang kerap terlihat di sudut lampu merah saja.
Baca juga: Hantoni Hasan Siap Lanjutkan Program Gubernur Terdahulu, Dari Kota Baru sampai Perpustakaan Digital
Baca juga: Hantoni Hasan Tak Ingin Gedung Megah yang Berdiri di Kawasan Kota Baru Lampung Menjadi Mubazir
Juga termasuk para pak ogah yang kerap mangkal di u-turn atau putar arah jalanan.
Hantoni Hasan yang digadang-gadang bakal maju pada kontestasi Pilgub Lampung 2024 itu mengungkapkan, fenomena menjamurnya anak jalanan di sudut Kota Bandar Lampung akhir-akhir ini dilatarbelakangi banyak hal yang saling terkait.
Mulai dari faktor kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, keluarga yang kurang harmonis, hingga faktor lingkungan sosial.
“Faktor-faktor ini menurut saya saling terkait, sehingga menimbulkan berbagai motif anak-anak tersebut turun ke jalanan,” papar Hantoni Hasan yang mengusung tagline Lampung Bangkit menuju Pilgub Lampung 2024 ini.
Dari sederet faktor itu, kata Hantoni Hasan, yang paling dominan adalah motif ekonomi.
Faktor ini kerap membuat sang anak menghindar dari kenyamanan di keluarga sehingga memilih turun ke jalanan untuk mengekspresikan diri secara bebas.
Pada tahap ini, kondisi psikologi sang anak rentan disusupi komunitas anak jalanan yang lain.
Puncak dari kondisi itu, anak-anak rentan di eksploitasi oleh oknum-oknum tertentu.
“Ketika di jalanan, anak-anak tersebut berinteraksi sosial dengan komunitas jalanan lainnya. Ini menyebabkan anak-anak tersebut memiliki lingkungan sosial negatife. Kondisi ini rawan untuk dieksploitasi oleh pihak-pihan tertentu,” papar Hantoni Hasan.