Berita Lampung

Waspada Harimau Sumatera, Warga Pesisir Barat Diimbau Kurangi Kegiatan Berkebun

Wakil Bupati Pesisir Barat Zulqoini Syarif mengimbau warga selalu berhati-hati dan waspada hingga situasi dinyatakan aman dari Harimau Sumatera.

Editor: Indra Simanjuntak
Dokumentasi warga
Ilustrasi penampakan harimau Sumatera di Pesisir Barat. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PESISIR BARAT - Wakil Bupati Pesisir Barat Zulqoini Syarif mengimbau warga selalu berhati-hati dan waspada hingga situasi dinyatakan aman dari Harimau Sumatera.

"Kita semua tahu dalam berapa pekan ini harimau sudah memangsa beberapa hewan ternak milik warga, untuk itu mengimbau masyarakat agar berhati-hati," ungkapnya saat menyambangi tiga titik posko siaga satwa liar, Jumat (20/12).

Adapun tiga posko siaga yang dikunjungi yakni posko Pekon Pelita Jaya, Kecamatan Pesisir Selatan, posko simpang RSUD KH Muhammad Thohir Kecamatan Krui Selatan dan Pekon Rawas Kecamatan Pesisir Tengah. Wabup didampingi aparat TNI, Polri, Polisi Kehutanan (Polhut), dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Ia menjelaskan, usaha yang telah dilakukan para petugas tim gabungan dalam menangani konflik Harimau Sumatera di antaranya yakni memasang dua perangkap. "Ada dua perangkap jerat yang sudah dipasang. Pertama di Kecamatan Pesisir Tengah. Kemudian di Pekon Pelita Jaya Kecamatan Pesisir Selatan," terangnya.

Dikatakannya, berdasarkan informasi dari petugas, diperkirakan ada empat ekor harimau yang berkeliaran di sekitar wilayah Way Balak Pekon Rawas dan satu ekor di Pekon Pelita Jaya. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat mengurangi kegiatan di wilayah perkebunan. "Upayakan selalu ada teman jika berpergian dan segeralah berkoordinasi dengan petugas jika melihat keberadaan harimau," imbaunya.

Sementara sebagian besar warga setempat yang berprofesi sebagai petani saat ini masih takut dengan keberadaan harimau yang sedang berkeliaran. "Sekarang kami tidak berani ke kebun untuk mengambil damar, takut jadi korban keganasan harimau," ucap Wanda, warga Pekon Pelita Jaya. Ia berharap, pihak terkait berhasil menangkap harimau.

Menurutnya, harimau sumatera yang berkeliaran di Pekon Pelita Jaya lebih dari satu. Hal ini dikarenakan bentuk ukuran tubuh harimau yang memangsa kambing beberapa waktu lalu berbeda dengan harimau yang memangsa sapi kemarin. 

Belum Ada Dampak Ekonomi

PJ Sekdakab Pesisir Barat Jon Edward menilai dampak ekonomi akibat munculnya harimau belum begitu signifikan bagi petani sawah.

"Tapi kalau bagi petani yang menggantungkan hidup di perkebunan dampaknya sudah terasa," ucapnya. Dijelaskannya, jalan warga ke kebun saat ini menjadi perlintasan hariamau. Bahkan, kasus terbaru harimau tersebut telah masuk ke areal persawahan. Untuk itu, warga diimbau agar menghentikan aktivitas sementara untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

"Kita berharap mudah-mudahan masalah ini bisa segera diatasi, karena kalau berlarut-larut akan mengganggu perekonomian masyarakat," tandasnya. Konflik harimau dan manusia, lanjutnya, menjadi perhatian serius pemerintah setempat, karena lokasinya berada di hutan produksi bukan hutan kawasan TNBBS.

Ia mengkau, Pemkab bersama Satgas gabungan dalam waktu dekat akan segera menambah sangkar jebak Harimau Sumatera di wilayah setempat. "Kita sekarang sedang mengupayakan proses pembuatan kandang jebak baru, mungkin waktunya membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari," terangnya. Dijelaskannya, lamgkah ini diambil mengingat luas wilayah dari Kecamatan Pesisir Selatan ke Kecamatan Pesisir Tengah mencapai 30 kilometer.

Saat ini jumlah kandang jebak yang telah di pasang di wilayah setempat masih sangat minim. Sebagai langkah strategis untuk mengatasi itu pihaknya akan mengupayakan pembuatan kandang baru. Sebab, kandang jebak yang tersedia cukup terbatas, mengingat beberapa wilayah juga sedang mengalami hal yang sama, seperti di Bengkulu, Suoh Lampung Barat dan Way Kanan. (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved