Berita Terkini Nasional

Tabiat Kepsek SMAN 6 Depok Berimbas ke 133 Kepala Sekolah, Terancam Dicopot Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah mengimbau sekolah tidak memberangkatkan siswanya study tour ke luar provinsi. 

Tayang: | Diperbarui:
Kompas.com/Faqih Rohman Syafei
DEDI MULYADI- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat diwawancarai awak media di Gedung DPRD Jabar sebelum acara serah terima jabatan, Jumat (21/2/2025). Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut ada 111 SMA dan 22 SMK melanggar imbauan soal tudy tour. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jawa Barat - Tabiat Kepsek SMAN 6 Depok kini berimbas ke 133 kepala sekolah di Jawa Barat hingga terancam dicopot Dedi Mulyadi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah mengimbau SMA/SMK untuk tidak memberangkatkan siswanya study tour ke luar provinsi.

Baca juga: Pihak SMAN 6 Depok Mengaku Khilaf setelah Kepseknya Dicopot Dedi Mulyadi

Ternyata yang tak mengindahkan imbauan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bukan hanya Kepsek SMAN 6 Depok saja.

Ada 133 sekolah di Jawa Barat diduga melanggar perintah Dedi Mulyadi hingga berdampak pada nasib kepala sekolahnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan tim telah menginspeksi ratusan sekolah itu.

Dedi Mulyadi mengungkap, ada 111 SMA dan 22 SMK yang melanggar Surat Edaran Gubernur tentang study tour.

Oleh karena itu, Dedi Mulyadi memerintahkan UPTD dan Inspektorat menelaah sejauhmana pelanggaran yang dilakukan sekolah tersebut.

"Kami tidak segan untuk melakukan pemberhentian sementara maupun permanen (terhadap kepala sekolah)," kata Dedi saat dihubungi Kompas.com, Senin (24/2/2025), seperti dikutip TribunJatim.com.

Dedi menjelaskan, apa tugas kepala sekolah jika sudah diberhentikan? Dia mengatakan, kepala sekolah itu kembali mengajar, jadi guru.

"Enggak ada problem, sama juga rektor bisa jadi dosen biasa. Politisi, mantan ketua DPRD bisa jadi anggota biasa," jelas Dedi.

Terkait studi industri yang dilakukan SMK, Dedi mengatakan, industri yang terbanyak justru ada di Jawa Barat. Industri apa saja ada di Jawa Barat.

"Kan aneh, industri banyak di Jawa Barat, orang-orang Jawa Tengah, Jawa Timur bekerja di kawasan industri Jawa Barat. Kok orang Jawa Barat studi industrinya ke luar Jabar," katanya.

Menurut Dedi, logika-logika semacam itu, sering bertentangan dengan filsafat pendidikan dan arah kebijakan pendidikan,

Yang harus diingat, Pemprov Jabar mengeluarkan dana triliunan dalam setiap tahun, menyerap anggaran APBD yang cukup besar, demi meringankan beban orang tua terhadap pendidikan yang dijalani anaknya.

"Buat apa pemerintah keluarkan uang triliunan kalau pada akhirnya siswa hambur-hamburkan uang triliunan untuk kepentingan diri dan kesenangan hidupnya saja, termasuk juga barangkali ada kepentingan-kepentingan dari oknum-oknum guru, oknum kepala sekolah," kata Dedi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved