Berita Terkini Nasional

Kesaksian Bapak Mertua Brigadir Nurhadi Didatangi 7 Aparat, Singgung Soal Pidana

Bapak mertua Brigadir Muhammad Nurhadi, Sukarmidi, mengungkap satu kejadian seusai anak menantunya dikabarkan tewas diduga akibat dianiaya.

TRIBUNLOMBOK.COM/WAWAN SUGANDIKA
DIDATANGI APARAT: Mertua Brigadir Nurhadi, Sukarmidi, saat ditemui di kediamannya yang berada di Dusun Lendang Re, Desa Sembung, Kecamatan Narmada Lombok Barat, Rabu (9/7/2025). Sukarmidi, mengungkap satu kejadian seusai anak menantunya dikabarkan tewas diduga akibat dianiaya. Kejadian tersebut yakni pihak keluarga Brigadir Nurhadi didatangi 7 aparat di kediaman mereka. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta - Bapak mertua Brigadir Muhammad Nurhadi, Sukarmidi, mengungkap satu kejadian seusai anak menantunya dikabarkan tewas diduga akibat dianiaya.

Kejadian tersebut yakni pihak keluarga Brigadir Nurhadi didatangi 7 aparat di kediaman mereka.

Tak diketahui pasti, kapan ketujuh aparat itu mendatangi keluarga Brigadir Nurhadi. Namun yang pasti, setelah anggota Paminal Propam Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, dinyatakan tewas.

Diketahui, Brigadir Nurhadi ditemukan tewas di kolam satu di antara vila Gili Trawangan, Lombok, pada 16 April 2025.

Brigadir Nurhadi diduga mengalami penganiayaan sebelum tenggelam di dalam kolam.

Hingga saat ini, penyidikan kasus kematian anggota Bidang Propam Polda NTB, Brigadir Nurhadi masih berjalan.

Pihak keluarga mengaku didatangi tujuh orang aparat setelah kejadian dan dijanjikan kawal kasusnya. 

“Waktu datang 7 orang dia bilang sama saya untuk jangan mempersulit penyelidikan, dia menjanjikan akan mengawal kasus anak saya, dia bilang sudah 40 barang bukti sudah diamankan. Itu bahasanya,” ucap mertua Nurhadi, Sukarmidi, Kamis (10/7/2025).

Dia mengungkap, salah seorang anggota mengaku ada tekanan dari Mabes Polri untuk mengungkap kasus kematian Brigadir Nurhadi ini.

Jika tidak dipenuhi, maka akan diancam pidana.

“Jadi yang jelas dia bilang sama saya, nanti supaya cepat selesai karena saya ada tekanan Mabes, ini bukan ranah keluarga, bukan ranah aparat, tapi Ini ranah negara, jadi kalau Bapak mempersulit, Bapak kena, saya pun kena pidana,” kata dia menirukan ucapan anggota dimaksud.

Sukarmidi menceritakan bahwa menantunya sempat mengabari tentang tugas dinasnya, yakni menangani kasus kematian warga Lombok Utara, Rizkil Wathoni yang bunuh diri karena ditetapkan sebagai tersangka pencurian HP di minimarket.

Peristiwa itu memicu reaksi warga yang kemudian melakukan perusakan Kantor Polsek Kayangan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara pada Jumat (21/3/2025).

Belakangan, Iptu Dwi Maulana Kurnia Amin dicopot dari jabatannya dari jabatan Kapolsek Kayangan atas serangkaian kejadian itu.

“Anak saya sempat bercerita, dia ditugaskan untuk menangani kasus kematian warga KLU yang meninggal bunuh diri itu,” ucap Sukarmadi setelah dikonfirmasi, Kamis (10/7/2025).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved