Berita Lampung
Banjir dan Puting Beliung Tekan Produksi Padi di Lampung, Harga Gabah Masih Stabil
Sejumlah lahan persawahan dilaporkan mengalami kerusakan akibat genangan air dan terpaan angin kencang.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Ringkasan Berita:
- Bencana banjir dan puting beliung ternyata berimbas pada sektor pertanian di Lampung.
- Ketua DPD Perpadi Lampung Midi Iswanto mengungkap terkait dampak bencana itu.
- Sejumlah lahan persawahan dilaporkan mengalami kerusakan akibat genangan air dan terpaan angin kencang.
- Akibatnya, banyak tanaman padi roboh dan rontok sebelum masa panen.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Banjir dan angin puting beliung yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Lampung beberapa waktu lalu ternyata berimbas pada sektor pertanian, khususnya produksi padi.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Provinsi Lampung, Midi Iswanto mengungkap dampak bencana tersebut terhadap petani maupun pelaku usaha penggilingan padi.
Ia menyebutkan, sejumlah lahan persawahan dilaporkan mengalami kerusakan akibat genangan air dan terpaan angin kencang. Akibatnya, banyak tanaman padi roboh dan rontok sebelum masa panen.
“Pasti ada pengaruhnya dan ada keluhannya. Bagi petani tentu sangat merugikan, karena banyak padi yang tertinggal di sawah akibat kondisi tersebut,” kata Midi saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).
Selain petani, dampak juga dirasakan oleh pelaku usaha penggilingan padi.
Baca juga: 16 Pekon di Pringsewu Terendam Banjir, BPBD Pastikan Data Dampak Terus Diperbarui
Menurutnya, penurunan kualitas gabah menyebabkan rendemen hasil giling ikut menurun, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas beras yang dihasilkan.
“Pengaruhnya pada rendemen hasil giling dan kualitas beras. Dengan kondisi seperti ini memang ada penurunan,” jelasnya.
Meski demikian, Midi memastikan bahwa kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap harga jual gabah maupun beras di pasaran.
Ia menyebutkan harga masih dapat dipertahankan di kisaran Harga Eceran Ditetapkan (HED) dan Harga Dasar Pembelian (HDP).
“Walaupun kualitas dan rendemen berkurang, tetapi harga masih bisa diselamatkan. Masih sesuai dengan HED dan harga dasar yang ditetapkan,” tambahnya.
Para pelaku usaha pun berharap adanya perhatian serta langkah antisipasi dari pemerintah guna meminimalisir kerugian petani akibat bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi di wilayah Lampung.
Diketahui bencana banjir dan puting beling sempat terjadi di beberapa daerah di Lampung, seperti di Lampung Selatan, Kota Metro, dan Kabupaten Pringsewu.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)
| Kementerian PU Anggarkan Rp 5 Miliar untuk Roadmap Penanganan Banjir Bandar Lampung |
|
|---|
| PBB-P2 Pesawaran Awal 2026 Masih Rendah, Distribusi SPPT Jadi Penentu Percepatan |
|
|---|
| Sumarsono Desak Percepatan Normalisasi Irigasi demi Pemerataan Air Petani Lampung Tengah |
|
|---|
| Kronologi Penikaman Maut di Lampung Tengah, Konflik Keluarga Berujung Tewasnya Pria 37 Tahun |
|
|---|
| Mayoritas Pedagang Pasar Tradisional di Pringsewu Taat HET Minyakita Rp15.700 per Liter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Tanaman-Padi-di-Mesuji-roboh-disapu-angin-kencang.jpg)