Berita Lampung

Lebaran dan Nyepi Berdekatan, MUI Lampung Imbau Saling Menghormati 

Ketua MUI Lampung, Moh Mukri, mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondusivitas saat kedua perayaan berlangsung hampir bersamaan.

Penulis: Bayu Saputra | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra
SALING MENGHORMATI - Ketua MUI Lampung, Prof Moh Mukri saat diwawancarai Tribun Lampung, Rabu (18/3/2026).Kedekatan perayaan Lebaran dan hari Nyepi diharapkan menjadi ajang untuk saling menjaga dan menghormati antarumat beragama. 

Tribunlampung.co.id, BandarLampung - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung memberikan penjelasan terkait momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang waktunya berdekatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kedekatan dua perayaan besar ini diharapkan menjadi ajang untuk saling menjaga dan menghormati antarumat beragama.

Ketua MUI Lampung, Moh Mukri, mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondusivitas saat kedua perayaan berlangsung hampir bersamaan.

“Berkenaan dengan pada waktu yang sama, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi dan umat Islam berdekatan dengan Lebaran 1447 Hijriah,” ujar Mukri saat diwawancarai di Bandar Lampung, Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, umat Islam biasanya menggelar takbiran menjelang Idul Fitri, yang dalam kondisi tahun ini berdekatan dengan pelaksanaan Nyepi yang mengedepankan suasana hening dan ketenangan.

Meski demikian, Mukri menegaskan bahwa kedua kegiatan tersebut memiliki makna spiritual masing-masing. Takbiran merupakan bentuk rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan, sementara Nyepi menuntut ketenangan sebagai bagian dari peribadatan umat Hindu.

“Dip persilakan keberadaan tersebut, dan harapannya sama-sama menjaga. Karena yang Nyepi juga perlu ketenangan,” katanya.

MUI Lampung juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati serta menghindari tindakan yang dapat menyinggung pihak lain, seperti olok-olok atau perundungan. Menurutnya, perbedaan merupakan hal yang biasa dalam kehidupan beragama.

Selain itu, Mukri menyinggung kemungkinan perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri yang kerap terjadi setiap tahun. Hal tersebut disebabkan perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, yakni melalui hisab dan rukyat.

“Perbedaan itu sudah biasa. Jadi nanti kita ikut pemerintah. Bahwa kemudian ada yang mungkin mendahului,” ujarnya.

Ia berharap, masyarakat tidak hanya memahami imbauan tersebut secara lisan, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga suasana yang damai dan harmonis di tengah keberagaman.
 
  ( Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra )
 
 
 
 
 


 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved