Berita Lampung

Sopir Mobil Bantah Ada Blokade Rel Usai Tertemper Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Sopir mobil membantah ada aksi pemblokiran rel kereta api yang diduga dilakukan oleh dirinya, keluarga, maupun warga sekitar

Penulis: Bayu Saputra | Editor: soni yuntavia
Dokumentasi/Bayu Saputra
RINGSEK - Mobil korban mengalami ringsek setelah tertemper kereta babaranjang, Rabu (1/4/2026). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Reki Ferdiyansyah, pengemudi mobil Mitsubishi Xpander hitam BE 1129 AAM yang menjadi korban tertemper kereta api babaranjang, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang beredar di sejumlah media.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 20 Maret 2026 sekitar pukul 23.30 WIB, di perlintasan sebidang Jalan Sentot Ali Basa, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung.

Dalam keterangannya pada Rabu (1/4/2026), Reki membantah adanya aksi pemblokiran rel kereta api yang diduga dilakukan oleh dirinya, keluarga, maupun warga sekitar pascakejadian pada 25 Maret 2026.

“Kami menyampaikan bahwa tidak benar terjadi pemblokiran pada perlintasan tersebut. Lalu lintas kendaraan tetap berjalan lancar tanpa hambatan,” ujar Reki.

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada tindakan perusakan rel kereta api oleh pihak mana pun. Menurutnya, potongan besi rel yang terlihat dalam foto yang beredar di media sosial merupakan material lama yang sudah lama berada di sekitar lokasi.

“Besi tersebut bukan hasil pembongkaran atau perusakan oleh warga. Itu hanya sisa material yang memang sudah ada di pinggir rel,” jelasnya.

Reki menambahkan, aksi warga yang sempat mengangkat potongan besi tersebut tidak dimaksudkan untuk memblokade jalur kereta. Aksi itu, kata dia, hanya berlangsung kurang dari satu menit sebagai bentuk perhatian agar pihak terkait segera mengambil langkah pengamanan.

“Warga hanya ingin ada palang pintu dan penjagaan di perlintasan tersebut karena banyak anak sekolah dan masyarakat yang melintas. Tujuannya agar tidak ada korban lagi,” katanya.

Terkait kronologi kejadian, Reki menjelaskan bahwa dirinya melaju dari arah Jalan Soekarno-Hatta menuju jalan tembusan Yos Sudarso. Sementara itu, kereta api babaranjang datang dari arah Rajabasa menuju Tarahan.

“Saat bagian depan mobil sudah masuk ke rel, tiba-tiba terlihat cahaya lokomotif dari tikungan sebelah kanan. Saya kaget dan panik, lalu refleks mengerem,” ungkapnya.

Ia kemudian mencoba memundurkan kendaraan, namun tabrakan tidak dapat dihindari karena kereta melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak bagian depan mobil.

Reki juga menyoroti kondisi lokasi kejadian yang dinilai minim pengamanan. Menurutnya, perlintasan tersebut tidak dilengkapi palang pintu, tidak ada penjagaan, serta berada di area tikungan dan turunan yang gelap tanpa rambu peringatan.

Akibat kejadian tersebut, mobil korban mengalami kerusakan parah pada bagian depan.

Peristiwa ini kembali menjadi sorotan terkait pentingnya peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang, khususnya di wilayah dengan mobilitas masyarakat yang tinggi.

( Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra ) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved