Berita Lampung

Geliat di PTP Nonpetikemas Saat Bungkil Lampung Menghidupi Industri Sapi Dunia

PTP Nonpetikemas Cabang Panjang, Bandar Lampung, mengangkut bungkil sawit yang menjadi primadona komoditas ekspor.

Tayang:
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id/Dokumentasi PTP Nonpetikemas
BUNGKIL JADI UNGGULAN - Foto aktivitas di PT Pelabuhan Tanjung Priok atau PTP Nonpetikemas cabang Panjang, Bandar Lampung. Satu di antara komoditas unggulan ekspor yang melalui PTP Nonpetikemas cabang Panjang yakni bungkil sawit. Bahkan, dalam satu tahun, ekspor bungkil bisa mencapai 1 ton lebih. 

Ringkasan Berita:
  • PTP Nonpetikemas Cabang Panjang, Bandar Lampung, mengangkut bungkil sawit yang menjadi primadona komoditas ekspor.
  • Adapun tujuan ekspornya ke negara-negara yang punya industri penggemukan sapi berskala besar, seperti Australia, Selandia Baru, hingga Amsterdam. 
  • Ironisnya, Lampung mengimpor sapi hidup dari luar negeri lewat pelabuhan ini justru tak mendapat prioritas yang sama. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung Sirius (52) terpaksa menghela napas panjang. Sopir truk asal Lampung Tengah, dari ekspedisi Sekar (SKS) ini harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk biaya menginap semalam di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok atau PTP Nonpetikemas cabang Panjang, Bandar Lampung.

Kapal pengangkut sapi yang mestinya bersandar hari Senin, 27 April 2026, mengalami keterlambatan.

Bagi Sirius, menunggu adalah bagian dari pekerjaan. Dalam sepekan, ia biasa mondar-mandir mengangkut sekitar 24 ekor sapi impor untuk dibawa ke peternakan di Lampung Tengah.

"Biasanya seminggu dua kali. Tapi enggak pasti juga, kadang sebulan enggak ada tarikan. Sapi ini kan tergantung permintaan peternak," kata Sirius saat berbincang di area parker pelabuhan, Selasa (28/4/2026) sore.

Sirius tidak sendirian. Ia adalah satu dari belasan sopir truk yang menggantungkan dapurnya dari rantai logistik di pelabuhan ini. Menariknya, sebelum kapal sapi yang dinanti Sirius itu tiba, Dermaga D Pelabuhan Panjang justru baru saja melepas sebuah kapal besar. Bukan membawa barang mewah, melainkan membawa komoditas lokal yang sering kali luput dari perhatian orang awam, bungkil sawit.

Baca juga: Peran Vital Pelabuhan Panjang, Jaga Pasokan dan Stabilitas Harga Pupuk

Dari Limbah Sawit Jadi Rebutan Dunia

Siapa sangka, sisa padatan dari proses pemerasan minyak kelapa sawit ini menjadi primadona ekspor Lampung. Di terminal curah kering PTP Nonpetikemas Panjang, bungkil adalah "raja" yang perputarannya sangat stabil.

"Sebelum kapal sapi ini datang, di Dermaga D ada kapal ekspor bungkil. Volumenya sekitar 42.000 ton," ujar Wahyu, bagian pengendalian kinerja PTP Nonpetikemas Panjang, Bandar Lampung, Selasa (28/4/2026).

Menurut Wahyu, dalam kondisi normal, ada lima perusahaan besar (shipper) yang rutin mengirim bungkil lewat sini. Potensinya tidak main-main, dalam setahun totalnya bisa menembus angka 1 juta ton lebih. Bahkan, satu shipper saja bisa menyumbang 400 hingga 600 ribu ton per tahun.

"Ekspornya ke negara-negara yang punya industri penggemukan sapi berskala besar. Ke Australia, Selandia Baru, bahkan kalau melihat dokumen pengirimannya (shipping instruction), ada yang dikirim sampai ke Amsterdam, Eropa," lanjut Wahyu.

Namun, ada ironis yang unik, di mana Lampung mengimpor sapi hidup dari luar negeri lewat pelabuhan ini, namun di saat yang sama, pelabuhan ini pula yang mengirimkan pakan berkualitas tinggi untuk menggemukkan sapi-sapi di belahan dunia lain.

Selain bungkil, batu bara juga menjadi komoditas curah kering andalan. Walau asalnya bukan asli dari bumi Lampung, seluruh pencatatan ekspornya murni bergerak melalui kanal Pelabuhan Panjang. Sementara komoditas terkenal lain seperti kopi, lada, dan cokelat, jalurnya berbeda karena dikemas dalam kontainer melalui perusahaan mitra, IPC TPK.

Efisiensi Jalur Pipa di Dermaga F

Bergerak sedikit ke Dermaga F, ritme kerja pelabuhan terasa berbeda. Di sini adalah wilayahnya curah cair. Komoditas strategis seperti Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya—mulai dari RBD Palm Olein, oleochemical, stearin, hingga biodiesel—mengalir tanpa henti ke lambung kapal tangki.

Jika di sektor curah kering banyak raksasa swasta yang memiliki Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS), PTP Nonpetikemas Panjang menjadi tumpuan utama bagi operasional logistik LDC Group untuk mengirim produknya ke seluruh dunia, mulai dari China, India, Mediterania, hingga Afrika.

Proses pemuatannya pun terbilang canggih namun efisien. "Di Dermaga F kita pakai sistem pipa terintegrasi. Jadi dari tangki timbun milik perusahaan, minyak langsung dipompa lewat pipa ke dermaga, langsung masuk ke manifold kapal. Jauh lebih cepat dan minim menyusut (losses) dibanding kalau harus diangkut pakai truk tangki satu-satu," jelas petugas pelabuhan tersebut.

Berkejaran dengan Hujan dan Cuaca

Mengelola pelabuhan curah bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar para pekerja di lapangan bukanlah mesin yang rusak, melainkan langit yang tiba-tiba mendung. Bagi komoditas curah kering seperti bungkil dan batu bara, hujan adalah musuh nomor satu.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved