Berita Lampung

Bulan Depan 8.791 Ha Sawah di Pringsewu Bakal Panen Padi 

Proses panen padi musim tanam (MT) I di Kabupaten Pringsewu tengah berlangsung dan memasuki puncaknya pada April 2026. 

Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: soni yuntavia
Dok Kominfo Lampung
PANEN RAYA - Ilustrasi panen raya. Puncak panen padi di Pringsewu terjadi pada April dengan prediksi luas panen mencapai 8.791 hektare, sementara sisanya sekitar 3.913 hektare akan dipanen pada Mei, Selasa (14/4/2026). 

Tribunlampung.co.id, Pringsewu Proses panen padi musim tanam (MT) I di Kabupaten Pringsewu Lampung tengah berlangsung dan memasuki puncaknya pada April 2026. 

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu, Luky Adrian mengatakan, panen padi MT I telah dimulai sejak Maret 2026 seluas 1.016 hektare. 

“Puncak panen terjadi pada April dengan prediksi luas panen mencapai 8.791 hektare, sementara sisanya sekitar 3.913 hektare akan dipanen pada Mei,” ujarnya kepada Tribun Lampung, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, perbedaan waktu panen antarwilayah di Pringsewu dipengaruhi oleh variasi waktu tanam. 

Hal ini terjadi akibat perbedaan curah hujan pada awal musim penghujan serta teknik budidaya yang belum merata, terutama pada wilayah yang belum optimal menerapkan mekanisasi pertanian.

Secara keseluruhan, luas lahan sawah di Kabupaten Pringsewu mencapai 13.720 hektare, dengan estimasi produksi gabah kering giling (GKG) hingga 90.552 ton. 

Luky menjelaskan, hasil panen dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti curah hujan, serangan hama dan penyakit, serta penggunaan benih unggul.

“Penggunaan benih varietas unggul yang didukung pemerintah terbukti mampu meningkatkan produktivitas dibandingkan benih turunan,” jelasnya.

Dari sisi harga, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas harga saat panen raya.

“Untuk saat ini harga gabah di tingkat petani masih di atas HPP. Kami juga membantu menghubungkan petani dengan Bulog Kanwil Lampung jika ditemukan penjualan di bawah harga tersebut,” tambah Luky.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyalurkan bantuan dua unit dryer pada 2025 yang ditempatkan di Pekon Tambah Rejo dan Pekon Mataram. 

Bantuan tersebut dinilai efektif mendukung proses pascapanen, terutama saat musim hujan.

“Penggunaan dryer sangat membantu menurunkan kadar air gabah hingga di bawah 15 persen secara efisien.

Ini juga menjaga kualitas beras dan mengurangi butir pecah,” ujarnya.

Meski demikian, kebutuhan alat pengering masih dinilai kurang.  

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved