Berita Lampung

Kadin Lampung Prediksi Terjadi Guncangan Ekonomi Pasca Kenaikan BBM Non Subsidi

Kadin Lampung memprediksi akan terjadi guncangan ekonomi pasca kenaikan BBM Non Subsidi yang telah dilakukan pemerintah. 

Penulis: Bayu Saputra | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id
GUNCANGAN EKONOMI - Wakil Ketua Umum Kadin Lampung, Bidang Industri dan Perdagangan, Munir Abdul Haris. Kadin Lampung prediksi terjadi guncangan ekonomi pasca kenaikan BBM non subsidi. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lampung memprediksi akan terjadi guncangan ekonomi pasca kenaikan BBM Non Subsidi yang telah dilakukan pemerintah. 

Wakil Ketua Umum Kadin Lampung, Bidang Industri dan Perdagangan, Munir Abdul Haris mengatakan, pihaknya memprediksi akan adanya guncangan ekonomi pasca kenaikan BBM non subsidi tersebut. 

"Ini yang menjadi pekerjaan rumah (PR) besar dalam seminggu ke depan bahwa akan terjadi guncangan ekonomi yang signifikan," kata Abdul Haris saat dihubungi Tribun Lampung, Senin (20/4/2026). 

Diteruskannya, anggota Kadin Lampung dipastikan semuanya terdampak, terutama pada sektor konstruksi hingga lainnya. 

"Kami saat ini lagi pada pusing semuanya, karena berdampak semuanya industri yang memakai BBM non subsidi," ucap Munir. 

Baca Juga: Kenaikan BBM Non Subsidi, DPRD Lampung Minta Pemprov Lakukan Penyesuaian Operasional

"Maka dalam kurun waktu seminggu ke depan akan ada penyesuaian dan berdampak inflasi," imbuhnya.

Salah satu faktor jika BBM naik maka otomatis harga barang lainnya ikut naik. 

Kadin Lampung khawatir pertumbuhan ekonomi menengah dan menengah ke atas akan berdampak.

"Banyak industri akan tutup, hingga inflasi dan ketika itu daya beli masyarakat tak mampu maka sektor usaha banyak yang akan gulung tikar," terang Munir yang juga Anggota DPRD Lampung ini. 

"Contoh AMP jual aspal, akan memproduksi mixing bahan dasar aspal itu menggunakan mesin dengan menggunakan BBM non subsidi. Apakah penyesuaian harga ini dilakukan dan harus dilakukan penyesuaian? harga aspal yang jual lebih mahal karena biaya produksi lebih mahal," tukas Munir.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra) 

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved