Berita Lampung

Pola dan Motif Helau Batik Datang dari Insting, Emosi hingga Ikon Daerah

Ide bisa datang dari emosi, seperti perasaan sedih atau refleksi pribadi, yang kemudian dituangkan dalam bentuk motif abstrak. 

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Bintang Puji Anggraini
BATIK KONTEMPORER - Eko Wahyudi dan Eka Sri Hariyanti saat memamerkan kain batik kontemporer miliknya pada Jumat (1/5/2026). 

Tribunlampung.co.id, Bandar LampungSepasang suami istri tampak kompak membuat batik bersama. Sang suami dengan terampil mengoleskan lilin pada kain menghasilkan motif abstrak, sementara istinya dengan cermat memberi warna pada motif batik yang telah dibuat. 

Suasana ini tampak di Galeri Helau Batik Lampung yang beralamat di Gg. Jambu II, RT 008, Kemiling Raya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Jumat (1/5/2026).

Di balik keindahan motif kain batik kontemporer yang mereka hasilkan, tersimpan kisah perjuangan pasangan Eko Wahyudi dan Eka Sri Hariyanti. 

Helau Batik Dikenal Berkat Sentuhan Motif Kontemporer, Ide 

Keduanya merupakan sosok di balik brand Helau Batik, yang kini mulai dikenal berkat sentuhan motif kontemporer yang unik dan berbeda dari batik tradisional pada umumnya.

“Awalnya saya belajar membatik atas dorongan kepala sekolah, kebetulan saya dulu merupakan guru SLB,” ungkap Eko.

Saat itu, ia mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan membuat batik di Batik Siger selama tiga minggu. 

Setelah pelatihan tersebut, Eko mulai mengajarkan keterampilan membatik kepada anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB), sekaligus aktif dalam program pemberdayaan masyarakat.

Sejak tahun 2017, Eko semakin tertarik dan serius menekuni batik dan memutuskan resign dari SLB.

Sebelum membuaka galeri batik sendiri, selama beberapa tahun Eko menjadi perajin batik di Batik Siger.

Pada tahun 2019 ia memberanikan diri untuk membuka usaha batiknya sendiri, dengan dukungan dari Ibu Una, Eko didorong untuk tidak sekadar membuka galeri sendiri, melainkan menghadirkan identitas yang berbeda agar mampu berkembang.

Inspirasi tersebut membawanya menjelajahi berbagai referensi batik, termasuk batik kontemporer dari Yogyakarta seperti Banyusabrang. 

Dari situlah muncul gagasan untuk mengangkat motif khas Lampung ke dalam gaya yang lebih modern dan abstrak. 

“Pola dan motif batik itu sepenuhnya dari insting saya, jadi setiap kain motifnya tidak bisa sama,” jelas Eko.

Eko mengaku sering mengandalkan intuisi.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved