Berita Lampung
Dinas Pertanian Pringsewu Waspadai Serangan OPT di Musim Tanam Kedua
Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: taryono
Ringkasan Berita:
- Dinas Pertanian Pringsewu waspadai serangan OPT pada musim tanam kedua.
- Hama muncul di hampir seluruh kecamatan, masih kategori ringan.
- OPT dominan: leaf blast, neck blast, kresek, wereng batang cokelat.
Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada musim tanam kedua tahun ini.
Hasil pemantauan petugas Pengamat OPT menunjukkan, hama dan penyakit tanaman mulai muncul di hampir seluruh kecamatan, meski masih dalam kategori ringan.
Pengawas Benih Tanaman Dinas Pertanian Pringsewu, Luky Adrian, mengatakan sejumlah OPT yang paling banyak ditemukan saat ini antara lain penyakit leaf blast (blas daun), neck blast (blas leher), kresek, serta wereng batang cokelat.
“Pada musim tanam kali ini hampir di setiap kecamatan terdapat titik serangan OPT, namun masih dalam kategori ringan,” ujarnya kepada Tribun Lampung, Kamis (7/5/2026).
Meski masih ringan, ia menegaskan potensi peningkatan serangan tetap perlu diwaspadai.
Hal ini dipengaruhi jarak yang cukup dekat antara musim panen pertama dan musim tanam kedua, yang dapat memicu perkembangan populasi hama seperti wereng batang cokelat dan ulat grayak.
“Jika tidak dilakukan pencegahan dan pengendalian yang tepat, peningkatan populasi hama bisa menurunkan produktivitas tanaman,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, sejak Januari hingga April 2026 tercatat sekitar 110,51 hektare lahan terdampak OPT kategori ringan dan 2,75 hektare kategori sedang.
Untuk mencegah peningkatan serangan, Dinas Pertanian masih menyiapkan stok bantuan pestisida, khususnya untuk pengendalian wereng batang cokelat, ulat grayak, dan tikus.
Bantuan ini diberikan untuk mendukung gerakan pengendalian serentak di satu hamparan lahan.
Luky menjelaskan, petani yang menemukan gejala serangan OPT diminta segera melapor kepada penyuluh pertanian lapangan (PPL) atau petugas Pengamat OPT.
Laporan tersebut akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan sebelum penanganan dilakukan.
“Petani cukup melapor ke penyuluh atau petugas OPT agar bisa segera ditangani,” jelasnya.
Selain itu, Dinas Pertanian juga menyiapkan gerakan pengendalian massal atau gerdal, termasuk gropyokan tikus pada awal musim tanam.
Seluruh kecamatan yang memasuki musim tanam kedua dianjurkan melakukan pengendalian secara serentak untuk mencegah ledakan populasi hama.
Ia menegaskan, kunci utama pengendalian OPT adalah pengamatan rutin di lahan masing-masing. Dengan deteksi dini, serangan dapat segera dikendalikan sebelum meluas.
“Populasi OPT tidak langsung meningkat tanpa tanda. Jika diamati secara rutin, petani bisa lebih cepat mengambil langkah pengendalian,” ujarnya.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/PETANI-Dinas-Pertanian-Kabupaten-Pringsewu.jpg)