Berita Lampung

Pengalaman Petugas Haji di Arab Saudi, Dampingi Ibadah hingga Cari Jemaah yang Tersesat

Muhson dipercaya sebagai ketua Kelompok Terbang (Kloter) JKG 09 asal Lampung yang mengemban tanggung jawab mengawal 438 jemaah haji.

Tayang:
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Kiki Novilia
Dokumentasi/Muhson
PENGALAMAN PETUGAS HAJI - Muhson dipercaya sebagai ketua Kelompok Terbang (Kloter) JKG 09 asal Lampung yang mengemban tanggung jawab mengawal 438 jemaah haji. 

Ringkasan Berita:
  • Muhson dipercaya sebagai ketua Kelompok Terbang (Kloter) JKG 09 asal Lampung yang mengemban tanggung jawab mengawal 438 jemaah di tanah suci.
  • Ia mengawal kondisi kesehatan jemaah bersama dengan tim medis kloter.
  • Muhson dan tim harus bekerja ekstra untuk memantau kondisi fisik dan mental para jemaah mandiri ini agar tidak merasa sendirian.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Musim Haji 2026 ini menjadi menjadi pengalaman yang memberikan kesan mendalam bagi Muhson. 

Ini adalah kali pertama ia dipercaya sebagai ketua Kelompok Terbang (Kloter) JKG 09 asal Lampung yang mengemban tanggung jawab mengawal 438 jemaah di tanah suci.

Bagi Muhson, menjadi petugas kloter haji bukan sekadar mendampingi perjalanan fisik, melainkan sebuah pengabdian spiritual yang menguras energi dan emosi.

Ia harus bersinergi dengan lima petugas lainnya untuk memastikan ratusan jemaah tetap aman dan nyaman di tengah cuaca Arab Saudi yang menantang.

Salah satu tugas utama M Muhson adalah mengawal kondisi kesehatan jemaah bersama dengan tim medis kloter.

Baca juga: 2 Jemaah Haji Lampung Sempat Tunda Berangkat Kini Diterbangkan ke Tanah Suci

Selama di Arab, Mamar hotel yang ia tempati bersama dokter kloter difungsikan sebagai posko pengobatan dan cek kesehatan darurat.

"Layanan kita memang 24 jam karena jemaah ada yang sakit malam-malam, kedinginan, menggigil, hingga batuk-batuk, ada juga yang mengeluhkan sakit bawaan seperti paru dan jantung," ujar Muhson dihubungi melalui sambungan telepon.

Ketukan pintu kamar bisa terdengar kapan saja, mulai dari pagi hari, sore, hingga tengah malam saat petugas seharusnya beristirahat.

Muhson mengaku ikhlas waktu istirahatnya tersita demi memberikan rasa tenang bagi jemaah yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim kloter adalah keberadaan jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti).

Terlebih, banyak jemaah yang berangkat secara mandiri tanpa didampingi oleh anggota keluarga dari tanah air.

Muhson dan tim harus bekerja ekstra untuk memantau kondisi fisik dan mental para jemaah mandiri ini agar tidak merasa sendirian.

Di situasi tersebut, petugas berperan sebagai anak sekaligus saudara bagi jemaah, mulai dari urusan ibadah hingga hal-hal teknis seperti penggunaan fasilitas hotel.

"Kami harus konsen mendampingi yang mandiri, terutama yang lansia risti karena mereka tidak ada pendampingan keluarga," tuturnya.

Di samping itu, Muhson mencatat adanya penambahan kebutuhan kursi roda secara signifikan mencapai 11 unit di kloternya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved