Berita Lampung
Pasar Saham Indonesia Terpuruk, Begini Kata Guru Besar Unila
Nairobi mengatakan, langkah MSCI tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga saham, tetapi juga mencerminkan penilaian terhadap tata kelola.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengamat ekonomi Lampung Nairobi mendorong pemerintah, otoritas pengawas, dan Bursa Efek Indonesia melakukan pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola pasar modal.
Ia juga menilai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencoret sejumlah saham Indonesia dari indeks global menjadi sinyal menurunnya kepercayaan investor internasional terhadap pasar modal Indonesia.
Hal itu disampaikan Nairobi terkait terpuruknya pasar saham Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Di tengah tekanan hebat itu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad optimistis pasar saham akan kembali menguat setelah 29 Mei 2026.
Keyakinan itu disampaikan Dasco seusai menyambangi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan P Roeslani dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Selasa (19/5).
Nairobi mengatakan, langkah MSCI tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga saham, tetapi juga mencerminkan penilaian terhadap tata kelola pasar modal di Indonesia.
“MSCI mengirimkan pesan yang jelas terkait cara Indonesia mengelola pasar modal, mulai dari kualitas aturan, pengawasan, hingga perilaku pelaku pasar,” kata Guru Besar Ekonomi Publik sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung ini, Selasa (19/5/2026).
Nairobi menjelaskan, MSCI merupakan lembaga penyusun indeks global yang menjadi rujukan investor besar dunia dalam menentukan negara tujuan investasi.
Ketika bobot Indonesia dalam indeks diturunkan atau saham Indonesia dikeluarkan dari daftar indeks, terus dia, investor global membaca kondisi tersebut sebagai penurunan tingkat kepercayaan terhadap pasar Indonesia.
“Dalam bahasa sederhana, dunia mulai bertanya kembali seberapa jauh aturan main di pasar modal Indonesia bisa dipercaya,” ujarnya.
Nairobi menjelaskan, persoalan utama bukan hanya pada kinerja emiten, tetapi lebih pada kualitas institusi dan pengawasan pasar modal.
Ia menyoroti masih adanya keraguan terkait transparansi data free float, struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi, hingga lemahnya pengawasan terhadap praktik perdagangan tidak wajar.
Menurutnya, kondisi itu memunculkan ruang bagi perilaku spekulatif dan oportunistik di pasar.
“Investor akan merasa aman jika aturan ditegakkan konsisten, informasi terbuka, dan pelanggaran diberi sanksi jelas,” katanya lagi.
Nairobi juga menyinggung adanya pola kenaikan tajam sejumlah saham menjelang periode peninjauan indeks, kemudian melemah setelah periode tersebut selesai.
| Satresnarkoba Polresta Bandar Lampung Tangkap 2 Pengedar Ekstasi, Salah Satunya Pecatan TNI |
|
|---|
| Lucken Soroti Pengangkatan Plt dan Plh OPD, Siapa yang Pimpin Lampung Tengah Ini |
|
|---|
| Lampung Dipastikan Tak Kekurangan Hewan Kurban, DPRD: Pengawasan PMK Diperketat |
|
|---|
| Lampung Tengah Luncurkan Relawan Pendidikan untuk Penanganan Anak Tidak Sekolah 2026 |
|
|---|
| Kakanwil Kemenag Lampung: Penyembelih Hewan Kurban Sebaiknya Juleha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Dekan-Fakultas-Ekonomi-dan-Bisnis-FEB-Universitas-Lampung-Nairobi.jpg)